DOKTER WAHIDIN


DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO
BAPAK PERGERAKAN NASIONAL

Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yogyakarta. Hawa pegunungan itu sejuk. Sejauh mata memandang, tampaklah sawah, ladang dan tegalan yang hijau warnanya. Di desa yang aman, tenteram dan damai itulah Wahidin dilahirkan pada tahun 1857.
Ayah Wahidin adalah petani di desa Mlati. Demikian pula nenek moyangnya. Mereka itu hidup sederhana dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Biarpun ayah Wahidin seorang petani sederhana, tetapi ia mempunyai cita-cita luhur. Ia ingin agar anaknya maju. Wahidin dimasukkan ke sekolah desa. Ternyata Wahidin adalah anak yang cerdas, di kelas ia adalah murid yang terpandai. Meskipun ia pandai, tetapi Wahidin tidak sombong. Kawan-kawannya senang sekali kepadanya. Ia pun seorang anak yang sopan dan rendah hati.
Dengan mudah Wahidin dapat menamatkan sekolah desa . sekolah desa waktu itu terdiri dari 3 kelas. Pelajarannya adalah membaca, menulis dan berhitung. Kesemuanya diajarkan dalam bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa. Anak-anak waktu itu biasanya hanya cukup sampai sekolah desa. Apabila sudah tamat, mereka itu membantu orang tuanya, bekerja di sawah.
Tetapi Wahidin belum merasa puas dengan sekolahnya. Ia pergi ke kota Yogyakarta dan melanjutkan ke sekolah Belanda. Ia harus bekerja keras tetapi Wahidin memang anak yang pandai. Dengan mudah ia dapat lulus Sekolah Belanda ini.
Waktu itu belum banyak Sekolah menengah di negeri kita. Kalaupn ada, niscayalah murid-muridnya kebanyakan anak-anak Belanda dan Cina. Apalagi Perguruan Tinggi, sama sekali tidak ada. Biasanya anak-anak kita melanjutkan pelajaran ke Sekolah Guru dan Sekolah Dokter Jawa.
Demikian pula Wahidin, ia pergi ke Jakarta dan melanjutkan pelajaran ke Sekolah Dokter.
Dengan tekun dan giat ia belajar siang dan malam. Akhirnya berhasillah jerih payahnya. Kini Wahidin, sudah menjadi dokter. Ia adalah anak desa pertama yang menjadi dokter.
Pada suatu hari Wahidin pulang ke desanya. Ia berjalan-jalan masuk kampung ke luar kampung. Ia sering kali berjumpa dengan teman-teman lamanya, semasa kanak-kanak dahulu. Di antara mereka, banyak yang masih menetap di kampung. Mereka tetap hidup sebagai petani. Keadaaannya tidak banyak mengalami kemajuan. Malahan luas sawah-sawah mereka lebih kecil dari pada sawah orangtuanya dahulu. Sudah tentu pendapatannya menjadi kecil.
Dokter Wahidin juga berjumpa dengan anak-anak desa. Mereka tetap menyabit rumput dan menggembala kerbau sambil bernyanyi lagu-lagu merdu. Sepulang dari perjalanan Dokter Wahidin duduk-duduk sendirian. Ia mengenang peri kehidupannya ia membandingkan hidupnya sendiri dengan penghidupan teman-temannya dan anak-anak desa lainnya. Alangkah bedanya! Bukankah Wahidin sudah maju. Sudah banyak yang diketahui, banyak yang dilihat dan luas pula pergaulan serta pemandangannya. Sedangkan teman-temannya di desa dan anak-anak desa itu, masih hidup serba susah. Keadaannya sungguh menyedihkan. Wahidin berkata dalam hatinya:
“Tidak, kesalahan tidak terletak pada orang-orang desa. Mereka tidak mendapat kesempatan. Cobalah lihat diriku sendiri. Apa bedanya aku dahulu dengan anak-anak desa di sini. Tetapi orang tuaku memberikan kesempatan untuk belajar. Dan aku menggunakan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh.
Anak-anak desa dapat juga maju, bilamana diberi kesempatan. Mereka juga mempunyai otak yang cerdas dan mereka pun dapat menjadi pandai dan menduduki jabatan-jabatan yang tinggi. Hanya karena kesempatan tidak ada, maka anak-anak desa itu hidup terlantar dalam dunia yang picik dan sempit. Dan berapa puluh juta anak desa yang mengalami nasib malang seperti itu?
Keadaan seperti itu tidak baik dibiarkan terus-menerus. Mesti ada perubahan. Hanya pendidikanlah yang dapat memajukan anak-anak desa. Pendidikan dapat memajukan bangsa!”
Dokter Wahidin adalah orang yang bercita-cita luhur. Ia benar-benar ingin memajukan bangsanya. Ia tidak tinggal diam dan berpeluk lutut saja. Wahidin bertindak nyata.
Dari uang hasil pekerjaannya sebagai dokter, Wahidin menerbitkan majalah. Majalah itu bernama “Ratna Dumillah”.
Dokter Wahidin belum puas dengan majalah-majalah itu. Ia ingin langsung bertemu muka dengan muka bersama para priyayi, seperti bupati-bupati dan cendekiawan-cendekiawan bangsa kita. Dokter Wahidin ingin mengadakan rapat-rapat dan pertemuan-pertemuan. Ia ingin membentangkan cita-citanya.
Pada tahun 1906 maksudnya itu tercapai. Wahidin mulai bergerak mengelilingi kota-kota besar di Jawa. Di mana-mana ia mengadakan ceramah-ceramah. Ia menyadarkan, menginsyafkan dan mengajak, agar bangsa kita suka memperhatikan martabat bangsanya sendiri.
Sudah tentu pendengar-pendengar ada yang setuju, tetapi ada pula yang mencemoohkan. Kaum pencemooh itu tidak suka melihat anak-anak desa menjadi pandai. Siapa tahu, mungkin kedudukannya sendiri akan terdesak. Tetapi jumlah yang mencemoohkan itu tidak banyak. Kebanyakan setuju sekali pada cita-cita Dokter Wahidin. Mereka menjadi insyaf, bahwa martabat bangsa harus ditingkatkan. Bangsa kita harus sadar akan kedudukannya sebagai bangsa.
Sekarang datanglah gilirannya untuk mengadakan pertemuan di Jakarta. Pada tahun 1907, Dokter Wahidin sudah ada di Jakarta. Waktu itu dinamakan Batavia. Ia sengaja bertemu dengan murid-murid calon dokter. Ia bertemu dengan pemuda-pemuda Sutomo, Suraji, Gunawan, Angka, Gumberg dan lain-lainnya. Mereka itu pemuda-pemuda yang bersemangat dan mempunyai cita-cita Wahidin.
Dokter Wahidin mengajak pemuda-pemuda untuk mendirikan “Dana Pelajar”, guna membantu mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu.
Pemuda-pemuda itu lalu berkata:
“Cita-cita yang luhur ini, tidak dapat dicapai, bilamana kita tidak mendirikan perkumpulan”.
Demikianlah pada suatu hari Rabu, tanggal 20 Mei 1908, jam 09.00 pagi di gedung Stovia (Sekolah Dokter), yang terletak di jalan Abdurakhman Saleh, Jakarta, tampak banyak pemuda-pemuda. Mereka berkumpul dan mendengarkan pidato-pidato. Mereka itu memang sedang mengadakan rapat. Rapat itu dipimpin oleh pemuda Sutomo, yang kelak menjadi dokter dan pemimpin bangsa.
Apakah hasil rapat tanggal 20 Mei 1908, itu? Penting sekali! Pemuda-pemuda itu telah mendirikan Perkumpulan bernama “Budi Utomo”.
Dengan Budi Utomo, pemuda-pemuda itu ingin memajukan pendidikan bangsa, pertanaian, peternakan, perniagaan, teknik, kesenian dan sebagainya.
Budi Utomo ingin mengangkat martabat bangsa dan membangkitkan kesadaran berbangsa.
Tanggal 20 Mei 1908 adalah penting sekali. Hari itu adalah Hari Kebangkitan Nasional.
Sesudah itu tumbuhlah cabang-cabang Budi Utomo lainnya di mana-mana, yaitu di Bogor, Bandung, Surabaya, Yograkarta, Probolinggo dan tempat-tempat lain.
Juga perkumpulan-perkumpulan lainnya tumbuh kemudian, kesemuanya bertujuan mengangkat derajat bangsa.
Pergerakan Nasional sudah dimulai. Alangkah besarnya jasa Dokter Wahidin! Kebangkitan Nasional ini jiwai oleh semangat Dokter Wahidin. Ia adalah orang yang bercita-cita luhur. Tetapi sebagai manusia, Dokter Wahidin adalah orang yang sederhana, Dokter Wahidin mahir membunyikan alat-alat gamelan dan pandai pula menyanyi.
Dengan kepandaiannya sebagai dokter, ia suka menolong orang. Banyak sekali orang-orang yang berobat kepadanya. Ia adalah dokter yang pandai bergaul dan memandang pekerjaannya sebagai kewajiban suci. Bersama-sama Dokter Sutomo, maka Dokter Wahidin Sudirohusodo adalah peletak batu pertama bagi Pergerakan Nasional kita.
Ia adalah Bapak dari Pergerakan Nasional kita. Pemimpin bangsa dan pembangkit jiwa nasional ini, hingga usia tua tetap bersemangat dan berhaluan muda. Dokter Wahidin meninggal dunia pada 26 Mei 1917, di Yogyakarta dalam usia 60 tahun.


DEWI SARTIKA


DEWI SARTIKA
PERINTIS PENDIDIKAN WANITA

Di kota Bandung pada akhir abad ke-19. Hiduplah seorang patih bernama Raden Somanagara. Istrinya bernama R.A. Rajapermas. Mereka itu adalah orang tua Raden Dewi Sattika. Hari lahir Dewi Sartika itu jatuh pada tanggal 4 Desember 1884, di kota Bandung pula. Kelak Dewi Sartika itu juga dinamakan Juragan Dewi atau Juragan Ageung.
Sebagaimana anak-anak bangsawan lainnya pada waktu itu, Dewi Sartika dimasukkan ayah bundanya ke sekolah Belanda. Orang tuanya berharap kelak Sartika menjadi wanita yang pandai.
Tetapi penghidupan keluarga Patih Somanagara yang tenang dan tenteram itu mengalamai malapetaka yang besar.
Pada suatu hari di lapangan Tegallega Bandung diselenggarakan pacuan kuda. Banyak sekali penontonnya. Penduduk Bandung sejak dulu suka sekali pada pacuan kuda. Panggung kehormatan tampak indah, dihiasi bunga-bunga dan pita-pita warna-warni. Di panggung itu duduklah para undangan dan orang-orang besar lainnya.
Kebanyakan adalah orang-orang Belanda. Maklumlah pada waktu itu kita masih hidup pada jaman penjajahan. Selagi orang memperhatikan pacuan kuda, sekonyong-konyong terjadi hiruk-pikuk di panggung kehormatan. Tamu-tamu berdiri serentak dan lari terbirit-birit. Polisi-polisi pun berdatangan. Mereka memeriksa deretan bangku di panggung itu. Apakah gerangan yang terjadi? Ada tukang coper barangkali. Atau ada ular yang ingin ikut menonton pacuan kuda?
Salah semua tebakan kita! Rupanya di panggung itu diketemukan sebuah bom. Sudah tentu bom itu sewaktu-waktu bisa meledak. Karena itu orang-orang berlari-larian terbirit-birit mencari keselamatan. Mereka lupa semua pada pacuan kuda yang ramai itu.
Orang-orang Belanda marah-marah bukan main. Mereka berkata:
“Ini perbuatan kaum pemberontak. Siapa biang keladinya? Ia musti ditangkap dan dihukum!”
Dan siapakah yang bertanggung jawab adanya bom di Tegallega? Rupanya orang-orang Belanda mencurigai ayah Dewi Sartika. Raden Somanagara terus ditahan dan dijatuhi hukuman. Ia dibuang ke Ternate hingga akhir hayatnya.
Sejak hari itu Dewi Sartika tidak dapat bersekolah Belanda lagi. Guru-guru itu tentu saja tidak mau mempunyai murid anak seorang buangan.
Bangsa Indonesia suka hidup secara kekeluargaan. Bangsa kita suka hidup bergotong-royong. Karena itu, keluarga Dewi Sartika, tidak akan membiarkannya hidupnya terlantar.
Dewi Sartika lalu diasuh oleh pamannya, yaitu Patih Aria Cicalengka. Ia dapat melanjutkan sekolah. Sekarang ia giat mempelajari kerajinan tangan.
Dewi Sartika adalah anak yang periang. Ia pun rajin dan sabar. Tidak suka ia berselisih sesama teman. Dewi Sartika tidak angkuh dan tidak sombong. Walaupun ia puteri bangsawan, tetapi ia sering bergaul dengan anak rakyat kebanyakan.
Sejak kecil Dewi Sartika gemar bermain sekolah-sekolahan. Ia menjadi gurunya dan anak-anak pegawai serta pembantu-pembantunya di kepatihan, adalah murid-muridnya. Sekolahnya terletak di belakang dapur kepatihan. Papan-papan bekas yang tidak terpakai, dijadikan papan tulis. Kapurnya arang kayu. Anak-anak itu juga menggunakan batu tulis, yaitu pecahan-pecahan genting. Sejak kecil, Dewi Sartika memang sudah mengajar.
Sesudah Sartika besar, ia pun kembali kepada ibunya di Bandung. Kini ia ingin benar mendirikan sekolah. Sebagaimana Kartini, Dewi Sartika pun ingin memajukan kaum wanita. Ia tidak rela melihat kaumnya ketinggalan. Sartika selalu berkata:
“Hanya pendidikan yang akan membawa kaum wanita ke taraf yang lebih tinggi. Kedudukan kaum wanita harus sejajar dengan pria!”
Karena hatinya teguh dan tekun berhasil juga Dewi Sartika mendirikan sekolah.
Pada tanggal 16 Januari 1904, ia membuka Sekolah Gadis. Tempatnya di kabupaten Bandung. Mula-mula sekolah itu dinamakan “Sekolah Isteri”.
Sekolah gadis itu adalah yang pertama di Priangan, bahkan yang pertama pula di Indonesia. Makin lama Sekolah Isteri makin maju. Murid-muridnya terus bertambah, sehingga ruangan-ruangannya menjadi terlalu sempit. Setahum kemudian gedung sekolah itu dipindahkan ke sekolah di jalan Raden Dewi yang sekarang.
Pendidikan murid-muridnya pun makin maju. Murid-murid juga mendapat pelajaran menjahit, menisik, menyulam dan merenda.
Pada usia 22 tahun Dewi Sartika menjadi berkembang. Bersama-sama suaminya Dewi Sartika bekerja giat memajukan sekolah sehingga nama sekolahnya diganti menjadi “Sekolah Keutamaan Isteri”.
Pelajarannya ditambah dengan kepandaian memasak, mencuci, membatik dan menyeterika.
Sekolah Keutamaan Isteri tidak hanya dikunjungi oleh murid-murid Bandung. Bahkan ada pula murid-murid yang datang dari Bukittinggi. Demikian pula di tempat-tempat lain, dibuka cabang-cabangnya, misalnya di Garut, Purwakarta dan Tasikmalaya.
Kelak nama sekolah diganti lagi menjadi “Sekolah Raden Dewi”.
Ketika pada tahun 1945 Revolusi Indonesia pecah, Ibu Dewi Sartika mengalami sebagaimana dialami oleh bangsa kita lainnya.
Pada tahun 1946, tentara Inggris dan Belanda menyerbu Bandung. Terjadilah Bandung Lautan Api.
Ibu Dewi mengungsi ke Ciparay, terus ke Garut dan akhirnya ke Cineam di sebelah Selatan Ciamis. Tetapi di Cineam itu Ibu Dewi yang sudah lanjut usianya yaitu berumur 63 tahun jatuh sakit. Pada tanggal 11 September 1947, Ibu Dewi meninggal dan menyusul suaminya yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah.
Kelak makamnya dipindahkan ke Bandung. Dewi Sartika adalah seorang wanita yang bercita-cita. Ia ingin melihat kaumnya maju. Ia sudah berusaha dan bekerja keras serta beramal untuk mewujudkan cita-citanya itu.
Dewi Sartika sudah berjasa untuk bangsa dan Negara.


KARTINI


KARTINI
PEMBANGKIT JIWA WANITA

Kota Jepara terletak di Jawa Tengah, tidak jauh dari Semarang. Jepara terletak di tepi pantai. Apabila ke sebelah Timur, akan tampaklah samar-samar puncak Gunung Murya.
Jepara sekarang adalah kota kecil saja. Tetapi dahulu pernah terjadi hal-hal yang penting dalam sejarah. Dahulu Jepara adalah Bandar yang ramai dari kesultanan Demak yang mencapai kebesarannya sekitar tahun 1550. Sesudah Sultan Trenggono dari Demak meninggal dunia, sebetulnya pusat pemerintahan pindah ke Jepara. Jepara dahulu diperintah oleh seorang wanita bernama Ratu Kalinyamat. Walaupun ia wanita, tetapi semangat perjuangannya kita kagumi. Ia tidak rela orang-orang Portugis berkuasa di Malaka. Dua kali ia menggerakkan armada menyerang Malaka, yaitu pada tahun 1550 dan 1574.
Pada serangan pertama Demak menyerang bersama armada Johor. Kedua kalinya bersama armada Aceh. Walaupun usahanya itu tidak berhasil, tetapi Ratu Kalinyamat sudah menunjukkan dengan bukti, bahwa ia adalah wanita Indonesia yang kuat.
Dan pada permulaan abad ke-20, di Jepara hidup pula seorang wanita Indonesia yang perlu kita kagmi. Namanya Raden Ajeng Kartini. Sekarang biasa kita sebut Ibu Kartini.
Siapakah Kartini itu?
Ia bukan Ratu. Ia juga tidak menggerakkan armada sebagaimana Ratu Kalinyamat. Tetapi Kartini adalah penggerak jiwa wanita, pembangkit semangat wanita. Ia adalah seorang yang mempunyai cita-cita luhur, karena itulah kita hormat kepadanya.
Kartini dilahirkan di Mayong. Apabila kita periksa peta Jawa Mayong adalah desa kecil dan sunyi saja.
Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879. Ayahnya adalah seorang bupati di Jepara bernama R.M. Ario Sosroningrat.
Saudara-saudara Kartini banyak sekali, kesemuanya ada 11 anak kakak-beradik. Kartini adalah anak yang kelima.
Pada waktu itu kita masih dijajah Belanda. Di pulau Jawa keadaan sudah sangat berlainan daripada sebelum Perang Dipanegara. Apalagi bilamana dibandingkan dengan keadaan ketika Sultan Agung masih memerintah.
Dahulu kita masih agak bebas bergerak. Tetapi pada permulaan abad ke-20 ini, kita sudah benar-benar dijajah.
Di luar daerah Surakarta dan Yogyakarta, bangsa kita paling tinggi boleh menjabat pangkat sebagai bupati. Jadi ayah Kartini adalah pejabat tertinggi di Jepara. Tidak semua orang bisa menjadi bupati. Ia harus keturunan bangsawan, artinya nenek moyangnya adalah raja. Orang kebanyakan, walaupun cerdas, tidak bisa menjadi bupati. Demikianlah pada jaman penjajahan.
Sekarang anak-anak Indonesia banyak yang bersekolah. Tetapi dulu tidak demikian. Jumlah sekolah masih amat sedikit. Lagi pula pintu sekolah itu hanya terbuka bagi anak-anak keluarga bangsawan.
Kartini bersama saudara-saudaranya, yaitu Rukmini dan Kardinah semuanya bersekolah. Demikian pula saudara-saudaranya yang laki-laki.
Pada masa itu sungguh istimewa, bilamana anak-anak perempuan bersekolah. Biasanya anak-anak perempuan tinggal di rumah saja. Ibu-ibu pada jaman itu seringkali memberi nasehat pada puteri-puterinya:
“Ingatlah selalu, kau anak perempuan. Tidak perlu kau bersekolah. Anak perempuan harus tinggal di rumah. Anak perempuan sudah cukup, kalau sudah bisa memasak nasi seperti anak laki-laki. Lagi pula anak perempuan harus pendiam. Bila berbicara harus perlahan-lahan atau berbisik-bisik. Bilamana berjalan-jalan harus pelan-pelan pula, tidak baik berjalan cepat-cepat. Anak perempuan tidak boleh terlalu bebas!”
Kartini adalah anak yang cerdas. Dengan mudah ia belajar. Ia gemar sekali membaca buku dan menulis karangan.
Pada usia 12 tahun ia sudah tamat sekolah dasar. Ke mana ia melanjutkan?
Sebenarnya ia masih ingin sekali terus belajar. Ia bercita-cita menjadi guru. Ia selalu berkata:
“Bila aku kelak menjadi guru, aku akan membuka sekolah. Aku juga akan mendirikan asrama!”
Tetapi ternyata cita-citanya itu gagal. Ia tidak melanjutkan sekolah. Pada usia 12 tahun Kartini sudah harus tinggal di rumah atau dipingit. Ayah bundanya selalu berkata:
“Tidak baik bagi seorang perempuan berjalan-jalan di luar rumah, bilamana sudah berumur 12 tahun. Apalagi bagi seorang puteri bangsawan seperti kau, Kartini! Ibu dan Bapakmu mengerti, kau ingin terus belajar. Tetapi adat-istiadat bangsawan harus kau turuti. Adat kita melarang anak gadis berjalan bebas di luar rumah!”
Bukan main rasa hati Kartini. Ia menangis tersedu-sedu. Ia ingin terbang bagaikan elang rajawali, tetapi apa daya? Tembok-tembok kabupaten Jepara itu serasa akan menghimpit dan menghalang-halangi kebebasannya. Dalam suasana terkurung itu, Kartini sering kali mencurahkan isi hatinya kepada teman-temannya. Tetapi kesempatan untuk bergaul dengan bebas, jarang bagi Kartini. Lagi pula, tidak selamanya teman-temannya itu menetap di Jepara. Banyak yang pindah ke negeri Belanda. Kartini seringkali mencurahkan isi hatinya dalam surat-surat, ia kirimkan surat-surat kepada teman-temannya di negeri Belanda. Kelak surat-srutanya dikumpulkan dan dijadikan buku. Kumpulan surat-surat itu bernama “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Memang benar, nasib wanita pada jaman Kartini sungguh-sungguh gelap. Tidak boleh ke luar rumah sesudah umur 12 Tahun. Tidak dapat pula melanjutkan sekolah.
Kartini selalu menulis kepada teman-temannya. Ia ingin, agar kaum wanita diberi kebebasan. Agar kaum wanita dapat mencapai kedudukan yang tinggi. Wanita harus sekolah. Apabila ibu-ibu menjadi pandai, niscayalah putera-puteranya akan maju juga.
Kartini juga tidak senang, bilamana kaum wanita diperlakukan sewenang-wenang. Wanita dan pria harus sama kedudukannya. Wanita tidak boleh dipandang rendah.
Kartini juga tidak senang pada orang-orang Belanda yang bersifat sombong dan angkuh. Sebenarnya ia tidak senang pada penjajahan. Ia pun iba hatinya melihat penderitaan rakyat seperti bahaya kelaparan dan kemiskinan. Kartini sempat pula mendirikan sekolah di kabupaten Jepara, walaupun murid-muridnya belumlah banyak.
Sedianya Kartini masih mempunyai kesempatan untuk belajar lagi ke Eropa. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan.
Tetapi tiba-tiba impiannya ini pun lenyap sama sekali. Kartini harus menikah dengan bupati Rembang. Pada tahun 1903 ia menikah dengan R.A. Joyodiningrat.
Setahun kemudain Kartini melahirkan seorang bayi, tetapi 4 hari sesudahnya Kartini meninggal dunia.
Kartini adalah wanita yang bercita-cita. Sekarang cita-cita Kartini sudah banyak yang tercapai. Kedudukan wanita sudah sama dengan pria. Semua sekolah dan perguruan tinggi sudah terbuka bagi kaum wanita. Banyak wanita menduduki jabatan yang tinggi dan memegang tugas yang penting. Kaum wanita sudah tidak dikekang. Ia sudah bebas. Namun demikian, wanita adalah tetap wanita.
Betapapun majunya seorang wanita, ia harus tetap memiliki jiwa keibuan. Jiwa penuh kasih sayang, ramah-tamah dan halus budi bahasanya. Sebenarnyalah, wanita itu tiang negara dan masyarakat. Apabila kaum wanitanya maju, niscayalah maju pula Negara dan masyarakatnya.




SI SINGAMANGARAJA


SI SINGAMANGARAJA
HINGGA AKHIR HAYATNYA TETAP
MENETANG KOMPENI

Orang Belanda di Betawi kali ini mengalihkan pandangannya ke daerah Tapanuli, sekitar danau Toba. Dengan teliti mereka melihat peta pulau Sumatera. Mereka berkata:
“Daerah-daerah lain sudah kita kuasai. Tetapi siapa di antara opsir-opsir di sini pernah berlayar di danau Toba? Tentu belum ada! Sudah datanglah masanya untuk menguasai Tanah Batak itu. Jangan sampai orang-orang Belanda ketinggalan dari bangsa-bangsa Jerman!”
Memang hingga pertengahan abad ke 19 itu, Tanah Batak belum lagi didatangi serdadu Belanda. Ada juga beberapa pendeta bangsa barat, seperti bangsa-bangsa Inggris, Belanda, Amerika dan Jerman yang pernah sampai di Tanah Batak. Mereka itu menyiarkan agama Kristen dan mendirikan gereja-gereja. Tetapi bendera Belanda belum lagi berkibar di tanah Batak. Orang-orang Belanda pasti ingin benar cepat-cepat menaklukkan Tapanuli, tetapi hal itu tidaklah mudah.
Sejak beberapa abad yang lalu, di Tapanuli, hidup seorang raja bernama Si Singamangaraja. Ia adalah pemimpin tertinggi antara penghulu-penghulu atau kepala-kepala suku yang banyak terdapat di Tanah Batak. Rakyat menghormati Si Singamangaraja dan taat padanya. Bahkan Si Singamangaraja dipandang sebagai tokoh yang keramat. Ibu-ibu dan ayah-aayah di Tanah Batak, sering kali bercerita tentang kebesaran Si Singamangaraja pada anak-anaknya di rumah. Mereka bercerita:
“Anak-anakku, ketahuilah, mata air yang terdapat di dekat Sibolga itu terjadi karena Si Singamangaraja menerjang batu di situ”.
Demikian pula rakyat percaya, Si Singamangaraja bisa mendatangkan hujan dan angin, serta mampu menyembuhkan penyakit. Begitu cintanya rakyat Tapanuli kepada Si Singamangaraja.
Pada waktu orang-orang Belanda mengincarkan pandangannya ke Tanah Batak, yang memerintah di istana Bakara adalah Si Singamangaraja ke XII. Ia juga disebut Raja Patuan Besar atau Ompu Pulau Botu.
Si Singamangaraja ke XII adalah seorang raja yang tegap dan tinggi badannya. Ia benar-benar seorang raja yang perkasa. Ia sadar benar orang-orang Belanda ingin menguasai Tanah Batak, sadar benar orang-orang Belanda ingin mengusasi Tanah Batak.
Si Singamangaraja selalu berkata:
“Jangan percaya kepada Gumponi (Kompeni, yaitu Belanda). Mereka akan menjajah kita. Mereka akan merusak-rusak perdagangan kita dan merampas kebebasan kita!”
Dalam barisan Si Singamangaraja terdapat pula panglima perang dari Aceh dan Minangkabau.
Pada tanggal 29 Juni 1883, barisan Si Singamangaraja sudah siap-siap akan menyerang pos-pos Belanda di Tapanuli. Si Singamangaraja berkata kepada panglima-panglimanya.
“Saya sendiri, Panglima-panglima akan membawa pasukan dari arah Barat dan rumah kontrolir Welsink di Balige akan kami serang. Sementara itu, sahabat-sahabatku Teuku Muhammad dan Teuku Sogala, saudara-saudara hendaknya berangkat dari Uluan ke Porsea. Di sana saudara-saudara akan berjumpa dengan pasukan-pasukan kita yang sudah menanti kedatangan saudara-saudara. Dan bersama-sama mereka, hendaknya saudara-saudara bergerak menyerang pos-pos Gumponi di Lagoboti!”
Segala persiapan sudah diatur rapi. Tetapi apa yang terjadi? Rupanya rencana itu bocor dan jatuh di tangan musuh.
Ini adalah perbuatan seorang pengkhianat yang menjual rencana itu kepada Belanda. Tentara Belanda lalu menggempur pasukan Si Singamangaraja sebelum sempat bergerak. Dan gagallah rencana penyerangan yang sudah disusun dengan teliti.
Walaupun demikian perang terus berkobar. Suatu peperangan yang berjalan hampir seperempat abad lamanya.
Orang-orang Belanda berhasil menguasai Bakara, tempat kediaman Si Singamangaraja. Perang lalu berjalan secara gerilya di lembah-lembah curam dan gunung-gunung yang tinggi serta hutan belantara.
Sungguh tidak mudah bagi Belanda untuk menguasai Tanah Batak. Tetapi senjata pasukan Belanda untuk menguasai memang lebih lengkap daripada barisan Si Singamangaraja. Lama kelamaan barisan Si Singamangaraja makin berkurang. Pernah pula orang Belanda berkata:
“Barangsiapa dapat menangkap Si Singamangaraja hidup atau mati akan diberi hadiah uang!”
Tetapi rakyat begitu cinta pada Si Singamangaraja, sehingga tidak ada yang mau mengkhianatinya.
Sementara itu Perang Aceh sudah selesai. Sekarang orang-orang Belanda dapat mencurahkan perhatiannya untuk menundukkan Tanah Batak. Beribu-ribu pasukan Belanda lalu dikirm ke Tapanuli. Mereka terus mendesak pasukan Si Singamangaraja. Putera-putera Si Singamangaraja dan juga puterinya sudah pula gugur.
Dalam suatu hari di hutan Sidikalang pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Christoffel terlibat dalam pertempuran dengan Si Singamangaraja. Malang bagi Si Singamangaraja, ia tertembak tetapi masih bisa bertahan.
Kapten Christoffel minta agar Si Singamangaraja menyerah. Tetapi sambil tersenyum Si Singamangaraja meneggelamkan kepalanya. Akhirnya Si Singamangaraja tertembak lagi dan menghembuskan nafas yang penghabisan. Hari ini adalah tanggal 17 Juni 1907.
Si Singamangaraja sudah gugur sebagai Pahlawan Bangsa. Hingga akhir hayatnya ia tetap menentang penjajahan.





PANGERAN ANTASARI


PANGERAN ANTASARI
SULTAN YANG BERJUANG

Di tengah-tengah kampung rakyat, jauh dari Pesirapan, berdiamlah Antasari, pesirapan itu adalah keraton tempat kediaman Sultan kerajaan Banjar di Kalimantan.
Antasari adalah seorang yang tegap dan kuat. Ia adalah seorang yang sederhana. Tidak ada perbedaan antara cara hidup dan cara berpakaian Antasari dengan penduduk kampung lainnya. Penduduk mengenakan ikat kepala, Antasari selalu memakainya pula. Penduduk mengenakan sarung, demikian pula Antasari, ia juga seorang yang taat pada agama. Setiap hari Jum’at ia pergi bersembahyang di surau-surau dan masjid-masjid. Ia bergaul dengan rakyat. Ia mendengarkan suara hari rakyat. Rakyat tidak senang terhadap pengaruh Belanda yang makin hari makin besar di kerajaan Banjar. Rakyat tidak senang pada penjajahan.
Walaupun Antasari adalah seorang yang kini hidup sederhana, tetapi sebenarnya ia adalah seorang pangeran. Antasari itu anak pangeran Mashud, dan pangeran Amir itu kakeknya. Siapa yang tidak pernah mendengar nama pangeran Amir? Ia adalah seorang pejuang bangsa di Kalimantan. Pernah pangeran Amir mengangkat senjata melawan Belanda, tetapi akhirnya menderita kekalahan. Pangeran Amir ditangkap dan kemudaian dibuang ke Srilanka.
“Karena itu Antasari, walaupun kita ini keluarga pangeran, keturunan kerajaan Banjar, tetapi kita tidak berdiam di Pesirapan. Kita berdiam sebagai rakyat biasa di kampung ini. Walaupun demikian, kita tetap gembira dan menegakkan kepala. Jangalah sekali-kali menyombongkan asal keturunanmu, hai Antasari!
Kakekmu pengeran Amir, tidak suka Belanda makin besar kekuasaannya di negeri ini. Dahulu, kerajaan Banjar ini makmur. Kita menjual lada kepada pedagang-pedagang asing. Tetapi sejak tahun 1636 Belanda atau Kompeni sudah mulai mengikat perdagangan kita. Kompeni juga mendirikan loji di Banjarmasin!”
“Apakah baru pangeran Amir yang berani melawan Kompeni ayah?” tanya Antasari
“Tidak anakku, sudah pernah rakyat menyerbu dan membakar loji Kompeni pada tahun 1638. Bahkan kapal-kapal mereka yang berlabuh di Kota Waringin habis dibakar. Tetapi kemudian Belanda datang lagi dan mengikat kita lagi. Ketika Belanda berbuat terlalu jauh, yaitu menguasai seluruh kerajaan Banjar dan Sultan Nata seakan-akan hanya sebagai peminjam tanah saja, pangeran Amir sama sekali tidak rela,. Itulah sebabnya kakekmu mengangkat senjata, Antasari!” jawab ayahnya.
Antasari mendengarkan certa-cerita orang tuanya itu dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar tidak senang pula terhadap penjajahan. Ia sadar benar, negaranya menjadi mundur, akibat penjajahan Belanda.
Antasari selalu mendengarkan cerita-cerita ayah dan bundanya. Pada waktu itu yang menjadi Sultan di Banjarmasin adalah Sultan Adam. Pangeran Abdurakhman adalah putera mahkota. Apabila kelak Sultan Adam meninggal dunia, niscayalah pangeran Abdurakhman akan menggantikannya.
Pangeran Abdurakhman mempunyai dua orang putera, yaitu Pangean Tamjid dan pangeran Hidayat. Tetapi pada tahun 1852 putera-putera mahkota meninggal dunia lebih dahulu. Hal ini menimbulkan kesulitan-kesulitan. Orang-orang saling bertanya:
“Siapakah yang kiranya kan menjadi putera-putera mahkota sekarang? Siapa pula yang akan menggantikan Sultan Adam kelak? Pangeran Tamjid atau pangeran Hidayatkah?”
Justru kedua cucu Sultan Adam itu mempunyai sifat-sifat yang berlainan. Sultan Adam sendiri ingin benar, agar Hidayat menjadi putera mahkota. Ia selalu berkata:
“Lihatlah ia, cucuku pangeran Hidayat! Ia seorang yang taat pada agama, sebab itu dicintai rakyat. Lagi pula ia mempunyai jiwa yang halus dan mengetahui seni dan adat-istiadat. Pilihanku sungguh tepat. Pangeran Hidayat yang kelak menggantikanku dan menjadi Sultan di Kerajaan Banjar!”
Sebaliknya residen Belanda yang selalu mengamat-amati Sultan di Banjarmasin, bernama Vang Hengst berpendapat lain. ia selalu memuji-muji Tamjid. Ia lebih senang pada Tamjid. Padahal pangeran Tamjid tidak disukai rakyat, karena ia gemar hidup foya-foya dan tidak teguh pada agama. Ia pun seorang sahabat Belanda.
Lima tahun kemudian, yaitu pada tahun 1857, Sultan Adam wafat. Siapakah sekarang yang menjadi Sultan? Dalam surat wasiat, Sultan Adam tetap menunjuk pangeran Hidayat. Tetapi Belanda berkata:
“Tidak, tidak baik pangeran Hidayat menjadi Sultan. Pangeran Hidayat cukup menjadi Mangkubumi saja. Pangeran Tamjid tepat sekali sebagai Sultan. Ialah Sultan kerajaan Banjar yang sekarang, pengganti Sultan Adam!”
Sudah barang tentu keadaan masyarakat menjadi kacau balau. Banyak pangeran-pangeran tidak suka pada Tamjid, mengapa ia pula yang diangkat sebagai Sultan?
Antasari pun mulai bergerak. Ia menghubungi kepala-kepala daerah dari Hulu sungai, Martapura, Pleihari, Barito, Kahayan, Kapuas dan tempat-tempat lain. Antasari selalu berkata:
“Belanda sudah menggadaikan surat wasiat Sultan Adam. Seharusnya pangeran Hidayat menjadi Sultan. Pangeran Hidayat harus kita bela. Belanda telah menginjak-injak hukum dan adat istiadat di Negara kita. Tidak boleh kita biarkan keadaan serupa ini. Kita harus lawan keputusan Belanda.”
Semua pihak setuju dengan ajakan Antasari. Mulailah diadakan persiapan menyusun barisan. Panglima-panglima sudah siap semua, yaitu Surapati, Demang Leman, Kyai Adipati Mangkunegaraan, Kyai Suta Kara, Tumenggung Singapati, Cakrawati dan lain-lainnya. Mereka sudah siap untuk berperang membela agama dan kemerdekaan.
Pada bulan April 1859 mulailah barisan Antasari menggempur benteng Belanda di Pengaron. Pecahlah Perang Banjar yang dahsyat. Belanda mendatangkan bantuannya. Mereka mencurahkan segenap kekuatannya. Tetapi Antasari dan Hidayat berperang dengan gigih.
Barisan Antasari berperang dengan cara perang gerilya. Sebentar mereka muncul di Selatan, kemudian lenyap lagi. Tiba-tiba mereka muncul di Utara. Belanda bergerak ke Utara, tahu-tahu mereka sudah hilang. Tetapi mereka kembali berada di Timur. Begitu seterusnya, sehingga Belanda pusing juga.
Sementara itu Belanda terus menekan. Mereka berhasil membujuk pangeran Hidayat. Sesudah berperang tiga tahun lamanya, Hidayat menyerah pada Belanda. Ia lalu ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Belanda menyangka perang akan segera padam. Nyatanya perang bahkan makin berkobar.
“Saudara-saudara, pangeran Hidayat sudah menyerah. Apa yang hendak kita kerjakan? Apakah kita juga akan menyerah kepada Belanda?”
“Tidak pangeran, kita tidak mau menyerah. Patah tumbuh hilang berganti. Semula kita mengharap, agar pangeran Hidayat menjadi Sultan. Ternyata harapan itu kini hilang. Sekarang kita harus bertindak. Kita angkat Pangeran Antasari menjadi pangganti Sultan Adam!” jawab para Panglima. Sejak itu, Antasari adalah Sultan kerajaan Banjar. Ia bergelar Panembahan Amiruddin Khalifat ul Mu’minin.
Berbeda dengan Sultan Tamjid yang diangkat Belanda, Antasari adalah Sultan pilihan rakyat. Berbeda dengan Sultan Tamjid yang berdiam di Pesirapan, di Banjarmasin atau Martapura dan hidup mewah serta senang, Antasari bersiam di benteng-benteng dan markas-markas di tengah hutan jauh dari kesenangan.
Antasari adalah Sultan yang gagah berani. Berkali-kali Belanda membujuk, agar Antasari menyerah, tetapi ia teguh pada pendiriannya. Pernah Letnan Kolonel Verspyck berkata:
“Pangeran Antasari, lebih baik pangeran menyerah saja, buat apa pangeran hidup bersusah-payah di hutan-hutan. Jauh dari keramaian. Lebih baik pangeran memikirkan hari esok dan hidup tenteram dan tenang”
“Kami berperang adalah untuk menegakkan hukum Allah dan memulihkan kedaulatan dan kemerdekaan bumi Banjar!” jawab Antasari.
Perang pun terus berkobar. Tetapi Antasari makin tua umurnya. Hidup di tengah hutan, sambil berperang sungguh bukan hidup yang mudah.
Pada suatu haru Antasari jatuh sakit. Parah sekali penyakitnya. Ia tidak mungkin lagi berjuang seperti sedia kala.
Pada tanggal 11 Oktober 1862, Antasari meninggal dunia. Ia kembali menghadap Tuhan.
Antasari adalah pencetus Perang Banjar. Ia sudah memenuhi janji perjuangannya. Hingga saat-saat terakhir dalam hidupnya ia terus berjuang menentang penjajahan.
Antasari adalah Pahlawan Bangsa. Walaupun Antasari sudah meninggal dunia, tetapi perang di Kalimantan tetap berkobar. Putera-puteranya meneruskan perjuangan ayahnya.



TUANKU IMAM BONJOL


TUANKU IMAM BONJOL
BERJUANG UNTUK AGAMA DAN
KEMERDEKAAN BANGSA

Alangkah ramainya hari ini di Padang Lawas. Semua penghulu, orang tua-tua, alim-ulama dan lain-lainnya hadir dalam rapat besar. Mereka akan bermusyawarah. Tak berapa lama tampillah Tuanku Syarif ke depan. Ia mulai berbicara:
“Assalamualaikum warokhmatullahi wabarokatuh!
Saudara-saudara, kita berkumpul di sini untuk membuat ikrar. Mulai hari ini, marilah kita hidup benar-benar di jalan Allah. Jauhilah semua maksiat. Jauhilah hidup yang tidak mendapat ridho Tuhan, seperti berjudi, minum tuak, menyabung ayam, madat dan sebagainya”
Semua yang hadir setuju semua. Mereka tidak mau lagi hidup melanggar larangan agama. Dalam agama Islam, orang dilarang minum minuman keras, minum candu dan juga berjudi serta menyabung ayam.
Di tanah Minangkabau waktu itu memang banyak penghulu dan kepala-kepala adat yang suka minum, berjudi dan sebagainya.
Sebaliknya, golongan Paderi menentang kebiasaan yang tidak baik itu. Kaum Paderi biasanya mengenakan pakaian serba putih. Pemimpin kaum Paderi adalah Tuanku Syarif. Ia dilahirkan kira-kira pada tahun 1772. Ia giat sekali mempelopori agama Islam. Kemudian ia membangun perkampungan di daerah Bonjol. Sejak itu ia disebut Tuanku Imam Bonjol. Makin hari makin banyak murid-murid dan pengikut-pengikutnya. Mereka itu berkumpul dan bermukim di Bonjol. Tidak heranlah, Bonjol lalu menjadi daerah yang ramai. Tuanku Imam Bonjol lalu berkata:
“Saudara-saudara, agama kita melarang orang minum tuak, sehingga mabuk. Sudah pernahkah saudara menyaksikan orang mabuk? Orang mabuk tidak sadar akan dirinya. Ia akan berbuat hal-hal yang tak senonoh dan memalukan. Ia kehilangan akal dan harga dirinya, padahal agama Islam sangat menganjurkan, agar umatnya menggunakan akal dan tahu harga diri. Apalagi perbuatan berjudi. Apabila seorang sedang berjudi niscaya ia akan lupa pada segala-galanya. Ia lupa pada anak istri dan keluarganya. Nafsu akan menguasai dirinya. Akhir kesudahannya, hanya melarat yang didapat. Karena itu saudara-saudara, segala perbuatan yang membawa maksiat, harus kita cegah sebelum terlambat!”
Tetapi lawan-lawan Tuanku Imam Bonjol tidak mau mendengar kata-katanya. Dengan diam-diam mereka menyabung ayam dan berjudi lagi. Mereka juga minum tuak dan madat lagi. Bahkan, mereka tidak suka melihat daerah Bonjol makin hari makin semarak. Mereka mencari tipu muslihat untuk menghancurkan Imam Bonjol.
Permusuhan antara kaum adat dengan kaum Paderi makin hari makin menjadi-jadi. Mereka tidak hanya tuduh-menuduh dengan kata-kata, tetapi sudah serang-menyerang dengan senjata. Sudah terjadi perang antara mereka.
Tuanku Imam Bonjol tidak berjuang sendiri saja. Banyak ulama-ulama dan penghulu-penghulu memihak kepadanya. Mereka itu adalah Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piabang, Haji Sumanik dan masih banyak lagi. Kedudukan Tuanku Imam Bonjol makin kuat. Banyak ulama berbondong-bondong bergabung padanya. Daerah Bonjol juga makin luas. Dalam pertempuran pertempuran kaum Paderi banyak mendapat kemenangan.
Mereka berhasil pula merempas meriam besar. Sebaliknya kaum adat terus terdesak. Mereka lalu berkata:
“Barisan Tuanku Imam Bonjol makin kuat. Kalangkabut kita melawannya. Apabila keadaan begini terus, niscaya kita akan kalah. Apa salahnya kita minta bantuan Belanda di Padang?”
Pada tahun 1821 mereka mendatangi Belanda dan meminta bantuan untuk melawan kaum Paderi. Orang-orang Belanda senang sekali. Mereka berkata:
“Tentu, tentu kami akan bantu. Kami akan melawan barisan Tuanku Imam Bonjol!”
Orang-orang Belanda lalu siap-siap untuk berperang melawan Paderi. Tetapi orang-orang Paderi sudah mengetahui rencana orang-orang Belanda. Karena itu orang-orang Paderi lalu sibuk membuat benteng di tanah Bonjol. Benteng itu besar dan luas, di dalamnya dapat memuat 50.000 orang. Benteng itu dikelilingi parit yang lebar dan dalam. Sekitar benteng itu dikelilingi parit yang lebar dan dalam. Sekitar benteng itu dibuat pagar aur yang berduri.
Orang-orang Belanda lalu menyerang. Pasukannya dipimpin oleh Kolonel Raaf. Pertempur yang sungguh dahsyat. Tanah Agam menjadi medan perang. Orang-orang Belanda juga mendirikan Benteng-benteng di Bukittinggi dan Batusangkar. Walaupun demikian, mereka tidak dapat mengalahkan pasukan Paderi.
Dalam suatu pertampuran, Tuanku Ban Renceh kena peluru dan gugur. Ia adalah pahlawan bangsa. Sementara itu di pulau Jawa pecah perang Dipanegara. Dalam kalangan orang-orang Belanda sendiri mereka berkata:
“Sungguh berat bagi kita saat ini. Berperang melawan Tuanku Imam Bonjol di Tanah Minangkabau dan melawan Dipanegara di pulau Jawa, pasti akan membuat kita kalangkabut dan patah. Kita harus berdamai dulu dengan Tuanku Imam Bonjol!”
Karena itu Belanda lalu berdamai dengan Tuanku Imam Bonjol. Selama empat tahun di tanah Minangkabau aman kembali. Tidak ada peperangan antara kaum Paderi dengan Belanda.
Sesudah di pulau Jawa aman kembali, orang-orang Belanda lalu berkata:
“Sekarang kita berperang lagi di Minangkabau. Tuanku Imam Bonjol harus ditundukkan!”
Itulah tipu muslihat lawan. Sayang benar waktu itu kita belum berjuang bersama-sama. Andaikata Dipanegara dan Tuanku Imam Bonjol berperang bersama-sama melawan penjajahan Belanda, mungkin sekali bangsa kita tidak terlalu lama hidup dijajah. Tetapi, kita juga maklum! Waktu itu belum ada alat perhubungan seperti radio dan telepon. Juga tidak ada surat kabar. Sedangkan kita memang masih berjuang dalam daerah sendiri-sendiri.
Faham kebangsaan seperti sekarang, tentu saja belum tumbuh subur waktu itu.
Pada tahun 1830 perang di Minangkabau berkobar lagi. Tetapi sekarang kaum Paderi sudah bersatu dengan kaum adat. Kali ini pasukan Belanda dipimpin oleh Kolonel Elout. Mereka menyerang benteng Bonjol. Pasukan Paderi bertahan mati-matian. Walaupun senjata Belanda serba lengkap mereka baru berhasil merebut benteng Bonjol pada tahun 1837.
Belanda lalu menangkap Imam Bonjol. Mula-mula ia dibuang ke Cianjur, kemudian dipindah ke Ambon, Manado dan Lota.
Dalam usia 92 tahun pendekar bangsa Tuanku Imam Bonjol berpulang ke rakhmatullah. Ia sudah berjang untuk agama dan kemerdekaan bangsa. Tuanku Imam Bonjol adalah Pahlawan Bangsa.


PANGERAN DIPONEGORO


DIPANEGARA
MEMILIH HIDUP MENDERITA, TETAPI MULIA

Tegalreja adalah sebuah desa di luar kota Yogyakarta. Di suatu puri berdiamlah Ratu Agung dengan cucunya, Ontowiryo.
Kelak ia terkenal sebagai Dipanegara. Ratu amat sayang kepada cucunya. Beliaulah yang mendidik dan mengasuh Ontowiryo. Ratu Agung sangat mementingkan pendidikan agama dan jiwa kesatria.
“Ontowiryo, keadaan dahulu berlainan dengan sekarang demikian kata-kata neneknya.
Dahulu Mataram adalah Negara yang besar, hampir meliputi seluruh pulau Jawa. Waktu itu Mataram diperintah Sultan Agung. Pernah Sultan Agung menyerang Belanda di Batavia, hingga dua kali. Tetapi Mataram makin hari makin mundur. Pada tahun 1755 pecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. Dua tahun lagi Surakarta malahan dipecah pula dan berdirilah Mangkunegaran.
Sekarang orang-orang Belanda berkuasa di mana-mana. Dengan seenaknya mereka ke luar masuk keraton. Merekalah yang menentukan, siapa-siapa yang akan menjadi Sultan Patih dan Bupati-Bupati.
Dahulu keadaan sangat berlainan. Apabila orang-orang Belanda ingin menghadap raja kita, mereka tidak akan diiringi dengan payung. Terlebih dahulu, orang Belanda itu harus melayani raja. Mereka mempersembahkan kotak tempat sirih. Tempat duduk orang Belanda lebih rendah daripada tempat duduk raja. Waktu itu kita masih berkuasa, Ontowiryo!”
“Mengapa kita biarkan saja keadaan seperti itu, nenek Ratu Agung? Mengapa kita tidak melawan Belanda?”, tanya Dipanegara.
“Sudah banyak yang melawan, cucuku! Sudah banyak pahlawan-pahlawan yang gugur, seperti Baurekso, Tarunajaya, Untung Surapati. Banyak pula yang dibuang jauh dari pulau Jawa, cucuku. Banyak lagi pahlawan-pahlawan bangsa dari Aceh, Jambi, Minangkabau, Palembang” jawab nenek Ratu Agung.
“Penghidupan rakyat juga ikut mundur cucuku! Pajak-pajak begitu berat dan perdagangan bangsa dikuasai asing. Tidak banyak lagi hasil perdagangan yang dapat dirasakan rakyat.. apabila keadaan begini terus niscayalah rakyat akan jatuh miskin!”
Dipanegara mendengarkan ucapan-ucapan neneknya dengan sungguh-sungguh. Ucapan-ucapan itu diresapkannya dalam hati sanubarinya.
Ketika ia sudah dewasa, makin terang dan jelaslah apa yang dilihat. Makin nyaring pula apa yang didengar. Keadaan dalam masyarakat cocok benar dengan kata-kata neneknya. Rakyat memang miskin. Di mana-mana rakyat dibebani pajak yang berat. Berjualan di pasar dikenakan pajak. Melewati jembatan, harus membayar pajak. Melalui jalan raya, ke luar uang pula untuk pajak.
Penghidupan di keraton cocok pula dengan kata-kata nenek. Orang-orang Belanda lalu lalang seenaknya. Adat istiadat keraton sudah banyak yang dilanggar dan ditinggalkan. Bahkan tidak sedikit para pangeran yang ikut-ikutan dengan cara-cara hidup orang Belanda. Penguasa-penguasa di keraton banyak yang bersahabat dengan orang-orang Belanda, misalnya Patih Danureja.
Dengan hati masgul Dipanegaara melihat penghidupan di keraton dan masyarakat. Ia tidak senang melihat bangsa dan negaranya makin hari makin merosot. Dipanegara adalah seorang putera raja, yaitu Sultan Hamengku Buwono III atau Sultan Raja. Tetapi ia tidak senang hidup di keraton. Ia lebih senang bergaul dengan orang-orang sederhana di desa-desa, di langgar-langgar dan di masjid-masjid.
Dipanegara seringkali hidup menyendiri dan memikirkan bangsa dan negaranya. Teringatlah ia akan kata-kata neneknya. Teringatlah pula ia akan khotbah-khotbah di surau-surau dan ajaran-ajaran agama, bahwa kebathilan harus ditinggalkan dan keadilan serta kebenaran harus ditegakkan. Dipanegara menyadari, keadaan Negara dan bangsanya yang merosot itu adalah akibat penjajahan Belanda. Karena itu Dipanegara benar-benar tidak senang pada penjajahan.
Sebaliknya orang-orang Belanda juga tidak suka pada Dipanegara. Pada suatu hari, ketika Dipnegara sedang duduk-duduk di purinya di Tegalreja, datanglah seorang punggawa. Dengan tergopoh-gopoh punggawa itu melaporkan pada Dipanegara
“Pangeran, orang-orang memasang tonggak-tonggak di tanah Tegalreja. Banyak sekali jumlahnya!”
“Apa perlunya mereka memasang tonggak-tonggak?”, tanya Dipanegara.
“Mereka akan membuat jalan!”, jawab punggawa.
“Mengapa tidak memberitahukan dulu kepada kami? Cabut saja tonggak-tonggak itu!”, perintah Dipanegara kepada punggawa.
Lalu tonggak-tonggak itupun dicabutnya semua. Tetapi orang-orang Belanda kembali memasang tonggak-tonggak. Dan Dipanegara kembali pula menyuruh cabut semua tonggak-tonggak itu. Keadaan sudah tentu makin panas. Permusuhan antara Belanda dengan Dipanegara makin besar. Belanda lalu mengirim Mangkubumi untuk menemui dan membujuk Dipanegara. Tetapi Mangkubumi bahkan memihak Dipanegara. Ia tidak mau kembali lagi dan bersedia berjuang bersama Dipanegara. Makin lama makin banyak orang yang berkumpul di sekitar Dipanegara. Terbentuklah pasukan inti yang akan berjuang melawan Belanda. Rupanya Belanda mendengar apa yang terjadi di Tegalreja.
Belanda lalu berusaha menangkap Dipanegara. Sudah tentu orang-orang Belanda itu tidak datang begitu saja. Mereka datang bersama pasukan bersenjata lengkap, meriam juga tidak ketinggalan.
Dipanegara tentu saja tidak mau menyerahkan diri pada Belanda. Orang-orang Belanda lalu menyerang dan membakar puri Tegalreja. Mereka disambut dengan suatu pertempuran.
Terjadilan perang antara Belanda melawan Dipanegara. Perang itu adalah perang Dipanegara atau perang Jawa dan berlangsung dari tahun 1825 hingga 1830.
Sambil duduk di atas kudanya dan melihat purinya di Tegalreja yang dimakan api, Dipanegara berkata pada Mangkubumi
“Lihat paman, rumah Tegalreja sudah terbakar. Sekarang kami tidak punya rumah lagi!”
Dipanegara tidak berperang sendirian. Banyak bupati-bupati, pangeran-pangeran dan alim-ulama bergabung kepadanya.
Kyai Maja dengan barisan ulama, memihak Dipanegara. Demikian pula Sentot Alibasya Prawirodirjo. Ia seorang pemuda berusia 18 tahun. Ia seorang pemuda yang bersemangat. Selain itu masih banyak pangeran-pangeran dan bupati-bupati yang ikut Dipanegara.
Pihak Belanda mengerahkan pula bala tentaranya, dipimpin jenderal De Kock.
Perang Dipanegara berkobar selama 5 tahun. Daerah peperangan meliputi daerah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Pasukan-pasukan Dipanegara bergerak cepat. Medan perang sering berpindah-pindah. Mula-mula terjadi perang hebat di Tegalreja. Kemudian pindah ke Selarong, Plered, Sala, Kedu, Bagelan dan Banyumas. Juga Tegal dan Pekalongan ikut bergolak.
Pada suatu hari, ketika Dipanegara sedang berada di Markas, sekonyong-konyong datanglah seorang prajurit. Prajurit itu melapor:
“Pangeran, kami berhasil menawan musuh!”
“Bawa kemari tawanan itu!”, jawab Dipanegara.
Ternyata, tawanan itu adalah seorang pangeran yang masih muda. Tawanan itu menyedihkan benar, setiap hari menangis saja. Dipanegara lalu berkata:
“Lepaskan saja tawanan itu. Ia masih terlalu muda untuk ikut menanggung bencana perang!”
Jelaslah bahwa Dipanegara adalah seorang pemimpin yang berperikemanusiaan. Rakyat benar-benar cinta pada Dipanegara.
Belanda berkata:
“Barang siapa berhasil menangkap Dipanegara hidup atau mati akan diberi hadiah uang banyak”.
Tetapi tidak ada bangsa Indonesia yang mau mengkhianati Dipanegara.
Bahkan pada suatu hari pernah Dipanegara dikejar-kejar musuh. Ia mengendarai kudanya dengan kecepatan luar biasa. Hari baru saja hujan, karena itu tapak-tapak kudanya tampak jelas di atas jalan desa.
Seorang wanita yang sudah tua, cepat-cepat mengambil cangkul dan berusaha menghilangkan jejak-jejak Dipanegara. Karena itu musuh tidak dapat menangkapnya. Alangkah besar cinta rakyat kepada Dipanegara.
Dengan cara perang gerilya yang dilancarkan Dipanegara, Belanda mengalami banyak kerugian. Beribu-ribu tentaranya tewas dan banyak sekali harta bendanya hancur lebur.
Semangat tempur barisan Dipanegara memang luar biasa. Ketika mempertahankan benteng Plered, pasukan Dipanegara pernah tinggal 20 orang.
Dan dalam medan perang di Gowok, dekat Sala, Pangeran Dipanegara pernah pula luka pada dada dan lengannya. Walaupun demikian semangat bertempurnya terus berkobar.
Sebaliknya kerugian Belanda terus juga bertambah. Belanda lalu menggunakan cara baru. Mereka sekarang giat mendirikan benteng di mana-mana. Daerah Dipanegara setapak demi setapak di persempit.
Tetapi berat sekali untuk menundukkan Dipanegara. Karena itu Belanda menggunakan siasat lain lagi. Mereka berkata:
“Kekuatan Dipanegara bersama Mangkubumi, Kyai Maja dan Sentot Alibasya memang kuat sekali.
Sungguh berat menghadapi lawan yang bersatu. Karena itu barisan Dipanegara harus kita cerai-beraikan dengan cara perundingan!”
Belanda lalu mengajak Kyai Maja untuk berunding. Kyai Maja berhasil dibujuk dan dibuang ke Manado.
Demikian pula Sentot dapat dikelabui Belanda dan ia pun dibawaa ke Bengkulu. Tinggallah Dipanegara seorang diri. Ia masih terus melawan, tetapi tentu saja kekuatannya sudah tidak sedahsyat dahulu lagi. Sudah banyak anggota-anggota barisan Dipanegara yang menyerah, ditipu ataupun gugur. Barisan menghadapi saat-saat yang sungguh berat.
Pada tahun 1830, Belanda dapat mendekati Dipanegara dan mengajaknya berunding di Kota Magelang.
Ketika sedang berunding, sekonyong-konyong Jendral De Kock menyuruh tangkap Dipanegara. Pengikut-pengikutnya sudah lebih dahulu dilucuti senjatanya.
Dipanegara telah menjadi korban pengkhiatan pihak lawan, Dipanegara dibawa ke Semarang. Dengan kapal ia kemudian dibawa ke Batavia, akhirnya ia ditawan di Menado dan kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya.
Dipanegara adalah pahlawan bangsa. Ia memilih hidup berjuang dan menderita, tetapi mulia, daripada hidup senang dan mewah di keraton.
Dipanegara sudah lama meninggal dunia, tetapi semangatnya tetap hidup dalam kalbu bangsa Indonesia.


DOKTER WAHIDIN

DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO BAPAK PERGERAKAN NASIONAL Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yog...