TUANKU
IMAM BONJOL
BERJUANG
UNTUK AGAMA DAN
KEMERDEKAAN
BANGSA
Alangkah ramainya hari ini di Padang
Lawas. Semua penghulu, orang tua-tua, alim-ulama dan lain-lainnya hadir dalam
rapat besar. Mereka akan bermusyawarah. Tak berapa lama tampillah Tuanku Syarif
ke depan. Ia mulai berbicara:
“Assalamualaikum warokhmatullahi
wabarokatuh!
Saudara-saudara,
kita berkumpul di sini untuk membuat ikrar. Mulai hari ini, marilah kita hidup
benar-benar di jalan Allah. Jauhilah semua maksiat. Jauhilah hidup yang tidak mendapat
ridho Tuhan, seperti berjudi, minum tuak, menyabung ayam, madat dan sebagainya”
Semua yang hadir setuju semua. Mereka tidak
mau lagi hidup melanggar larangan agama. Dalam agama Islam, orang dilarang
minum minuman keras, minum candu dan juga berjudi serta menyabung ayam.
Di tanah Minangkabau waktu itu memang
banyak penghulu dan kepala-kepala adat yang suka minum, berjudi dan sebagainya.
Sebaliknya, golongan Paderi menentang
kebiasaan yang tidak baik itu. Kaum Paderi biasanya mengenakan pakaian serba
putih. Pemimpin kaum Paderi adalah Tuanku Syarif. Ia dilahirkan kira-kira pada
tahun 1772. Ia giat sekali mempelopori agama Islam. Kemudian ia membangun perkampungan
di daerah Bonjol. Sejak itu ia disebut Tuanku Imam Bonjol. Makin hari makin
banyak murid-murid dan pengikut-pengikutnya. Mereka itu berkumpul dan bermukim
di Bonjol. Tidak heranlah, Bonjol lalu menjadi daerah yang ramai. Tuanku Imam
Bonjol lalu berkata:
“Saudara-saudara,
agama kita melarang orang minum tuak, sehingga mabuk. Sudah pernahkah saudara
menyaksikan orang mabuk? Orang mabuk tidak sadar akan dirinya. Ia akan berbuat
hal-hal yang tak senonoh dan memalukan. Ia kehilangan akal dan harga dirinya,
padahal agama Islam sangat menganjurkan, agar umatnya menggunakan akal dan tahu
harga diri. Apalagi perbuatan berjudi. Apabila seorang sedang berjudi niscaya
ia akan lupa pada segala-galanya. Ia lupa pada anak istri dan keluarganya. Nafsu
akan menguasai dirinya. Akhir kesudahannya, hanya melarat yang didapat. Karena itu
saudara-saudara, segala perbuatan yang membawa maksiat, harus kita cegah
sebelum terlambat!”
Tetapi lawan-lawan Tuanku Imam Bonjol
tidak mau mendengar kata-katanya. Dengan diam-diam mereka menyabung ayam dan
berjudi lagi. Mereka juga minum tuak dan madat lagi. Bahkan, mereka tidak suka
melihat daerah Bonjol makin hari makin semarak. Mereka mencari tipu muslihat
untuk menghancurkan Imam Bonjol.
Permusuhan antara kaum adat dengan kaum
Paderi makin hari makin menjadi-jadi. Mereka tidak hanya tuduh-menuduh dengan
kata-kata, tetapi sudah serang-menyerang dengan senjata. Sudah terjadi perang
antara mereka.
Tuanku Imam Bonjol tidak berjuang
sendiri saja. Banyak ulama-ulama dan penghulu-penghulu memihak kepadanya. Mereka
itu adalah Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piabang, Haji Sumanik dan masih
banyak lagi. Kedudukan Tuanku Imam Bonjol makin kuat. Banyak ulama
berbondong-bondong bergabung padanya. Daerah Bonjol juga makin luas. Dalam pertempuran
pertempuran kaum Paderi banyak mendapat kemenangan.
Mereka berhasil pula merempas meriam besar.
Sebaliknya kaum adat terus terdesak. Mereka lalu berkata:
“Barisan
Tuanku Imam Bonjol makin kuat. Kalangkabut kita melawannya. Apabila keadaan
begini terus, niscaya kita akan kalah. Apa salahnya kita minta bantuan Belanda
di Padang?”
Pada tahun 1821 mereka mendatangi
Belanda dan meminta bantuan untuk melawan kaum Paderi. Orang-orang Belanda
senang sekali. Mereka berkata:
“Tentu, tentu kami akan bantu. Kami akan
melawan barisan Tuanku Imam Bonjol!”
Orang-orang Belanda lalu siap-siap untuk
berperang melawan Paderi. Tetapi orang-orang Paderi sudah mengetahui rencana
orang-orang Belanda. Karena itu orang-orang Paderi lalu sibuk membuat benteng
di tanah Bonjol. Benteng itu besar dan luas, di dalamnya dapat memuat 50.000
orang. Benteng itu dikelilingi parit yang lebar dan dalam. Sekitar benteng itu
dikelilingi parit yang lebar dan dalam. Sekitar benteng itu dibuat pagar aur
yang berduri.
Orang-orang Belanda lalu menyerang. Pasukannya
dipimpin oleh Kolonel Raaf. Pertempur yang sungguh dahsyat. Tanah Agam menjadi
medan perang. Orang-orang Belanda juga mendirikan Benteng-benteng di Bukittinggi
dan Batusangkar. Walaupun demikian, mereka tidak dapat mengalahkan pasukan
Paderi.
Dalam suatu pertampuran, Tuanku Ban
Renceh kena peluru dan gugur. Ia adalah pahlawan bangsa. Sementara itu di pulau
Jawa pecah perang Dipanegara. Dalam kalangan orang-orang Belanda sendiri mereka
berkata:
“Sungguh
berat bagi kita saat ini. Berperang melawan Tuanku Imam Bonjol di Tanah
Minangkabau dan melawan Dipanegara di pulau Jawa, pasti akan membuat kita
kalangkabut dan patah. Kita harus berdamai dulu dengan Tuanku Imam Bonjol!”
Karena itu Belanda lalu berdamai dengan
Tuanku Imam Bonjol. Selama empat tahun di tanah Minangkabau aman kembali. Tidak
ada peperangan antara kaum Paderi dengan Belanda.
Sesudah di pulau Jawa aman kembali,
orang-orang Belanda lalu berkata:
“Sekarang
kita berperang lagi di Minangkabau. Tuanku Imam Bonjol harus ditundukkan!”
Itulah tipu muslihat lawan. Sayang benar
waktu itu kita belum berjuang bersama-sama. Andaikata Dipanegara dan Tuanku
Imam Bonjol berperang bersama-sama melawan penjajahan Belanda, mungkin sekali
bangsa kita tidak terlalu lama hidup dijajah. Tetapi, kita juga maklum! Waktu itu
belum ada alat perhubungan seperti radio dan telepon. Juga tidak ada surat
kabar. Sedangkan kita memang masih berjuang dalam daerah sendiri-sendiri.
Faham kebangsaan seperti sekarang, tentu
saja belum tumbuh subur waktu itu.
Pada tahun 1830 perang di Minangkabau
berkobar lagi. Tetapi sekarang kaum Paderi sudah bersatu dengan kaum adat. Kali
ini pasukan Belanda dipimpin oleh Kolonel Elout. Mereka menyerang benteng
Bonjol. Pasukan Paderi bertahan mati-matian. Walaupun senjata Belanda serba
lengkap mereka baru berhasil merebut benteng Bonjol pada tahun 1837.
Belanda lalu menangkap Imam Bonjol. Mula-mula
ia dibuang ke Cianjur, kemudian dipindah ke Ambon, Manado dan Lota.
Dalam usia 92 tahun pendekar bangsa
Tuanku Imam Bonjol berpulang ke rakhmatullah. Ia sudah berjang untuk agama dan
kemerdekaan bangsa. Tuanku Imam Bonjol adalah Pahlawan Bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar