DOKTER WAHIDIN


DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO
BAPAK PERGERAKAN NASIONAL

Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yogyakarta. Hawa pegunungan itu sejuk. Sejauh mata memandang, tampaklah sawah, ladang dan tegalan yang hijau warnanya. Di desa yang aman, tenteram dan damai itulah Wahidin dilahirkan pada tahun 1857.
Ayah Wahidin adalah petani di desa Mlati. Demikian pula nenek moyangnya. Mereka itu hidup sederhana dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Biarpun ayah Wahidin seorang petani sederhana, tetapi ia mempunyai cita-cita luhur. Ia ingin agar anaknya maju. Wahidin dimasukkan ke sekolah desa. Ternyata Wahidin adalah anak yang cerdas, di kelas ia adalah murid yang terpandai. Meskipun ia pandai, tetapi Wahidin tidak sombong. Kawan-kawannya senang sekali kepadanya. Ia pun seorang anak yang sopan dan rendah hati.
Dengan mudah Wahidin dapat menamatkan sekolah desa . sekolah desa waktu itu terdiri dari 3 kelas. Pelajarannya adalah membaca, menulis dan berhitung. Kesemuanya diajarkan dalam bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa. Anak-anak waktu itu biasanya hanya cukup sampai sekolah desa. Apabila sudah tamat, mereka itu membantu orang tuanya, bekerja di sawah.
Tetapi Wahidin belum merasa puas dengan sekolahnya. Ia pergi ke kota Yogyakarta dan melanjutkan ke sekolah Belanda. Ia harus bekerja keras tetapi Wahidin memang anak yang pandai. Dengan mudah ia dapat lulus Sekolah Belanda ini.
Waktu itu belum banyak Sekolah menengah di negeri kita. Kalaupn ada, niscayalah murid-muridnya kebanyakan anak-anak Belanda dan Cina. Apalagi Perguruan Tinggi, sama sekali tidak ada. Biasanya anak-anak kita melanjutkan pelajaran ke Sekolah Guru dan Sekolah Dokter Jawa.
Demikian pula Wahidin, ia pergi ke Jakarta dan melanjutkan pelajaran ke Sekolah Dokter.
Dengan tekun dan giat ia belajar siang dan malam. Akhirnya berhasillah jerih payahnya. Kini Wahidin, sudah menjadi dokter. Ia adalah anak desa pertama yang menjadi dokter.
Pada suatu hari Wahidin pulang ke desanya. Ia berjalan-jalan masuk kampung ke luar kampung. Ia sering kali berjumpa dengan teman-teman lamanya, semasa kanak-kanak dahulu. Di antara mereka, banyak yang masih menetap di kampung. Mereka tetap hidup sebagai petani. Keadaaannya tidak banyak mengalami kemajuan. Malahan luas sawah-sawah mereka lebih kecil dari pada sawah orangtuanya dahulu. Sudah tentu pendapatannya menjadi kecil.
Dokter Wahidin juga berjumpa dengan anak-anak desa. Mereka tetap menyabit rumput dan menggembala kerbau sambil bernyanyi lagu-lagu merdu. Sepulang dari perjalanan Dokter Wahidin duduk-duduk sendirian. Ia mengenang peri kehidupannya ia membandingkan hidupnya sendiri dengan penghidupan teman-temannya dan anak-anak desa lainnya. Alangkah bedanya! Bukankah Wahidin sudah maju. Sudah banyak yang diketahui, banyak yang dilihat dan luas pula pergaulan serta pemandangannya. Sedangkan teman-temannya di desa dan anak-anak desa itu, masih hidup serba susah. Keadaannya sungguh menyedihkan. Wahidin berkata dalam hatinya:
“Tidak, kesalahan tidak terletak pada orang-orang desa. Mereka tidak mendapat kesempatan. Cobalah lihat diriku sendiri. Apa bedanya aku dahulu dengan anak-anak desa di sini. Tetapi orang tuaku memberikan kesempatan untuk belajar. Dan aku menggunakan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh.
Anak-anak desa dapat juga maju, bilamana diberi kesempatan. Mereka juga mempunyai otak yang cerdas dan mereka pun dapat menjadi pandai dan menduduki jabatan-jabatan yang tinggi. Hanya karena kesempatan tidak ada, maka anak-anak desa itu hidup terlantar dalam dunia yang picik dan sempit. Dan berapa puluh juta anak desa yang mengalami nasib malang seperti itu?
Keadaan seperti itu tidak baik dibiarkan terus-menerus. Mesti ada perubahan. Hanya pendidikanlah yang dapat memajukan anak-anak desa. Pendidikan dapat memajukan bangsa!”
Dokter Wahidin adalah orang yang bercita-cita luhur. Ia benar-benar ingin memajukan bangsanya. Ia tidak tinggal diam dan berpeluk lutut saja. Wahidin bertindak nyata.
Dari uang hasil pekerjaannya sebagai dokter, Wahidin menerbitkan majalah. Majalah itu bernama “Ratna Dumillah”.
Dokter Wahidin belum puas dengan majalah-majalah itu. Ia ingin langsung bertemu muka dengan muka bersama para priyayi, seperti bupati-bupati dan cendekiawan-cendekiawan bangsa kita. Dokter Wahidin ingin mengadakan rapat-rapat dan pertemuan-pertemuan. Ia ingin membentangkan cita-citanya.
Pada tahun 1906 maksudnya itu tercapai. Wahidin mulai bergerak mengelilingi kota-kota besar di Jawa. Di mana-mana ia mengadakan ceramah-ceramah. Ia menyadarkan, menginsyafkan dan mengajak, agar bangsa kita suka memperhatikan martabat bangsanya sendiri.
Sudah tentu pendengar-pendengar ada yang setuju, tetapi ada pula yang mencemoohkan. Kaum pencemooh itu tidak suka melihat anak-anak desa menjadi pandai. Siapa tahu, mungkin kedudukannya sendiri akan terdesak. Tetapi jumlah yang mencemoohkan itu tidak banyak. Kebanyakan setuju sekali pada cita-cita Dokter Wahidin. Mereka menjadi insyaf, bahwa martabat bangsa harus ditingkatkan. Bangsa kita harus sadar akan kedudukannya sebagai bangsa.
Sekarang datanglah gilirannya untuk mengadakan pertemuan di Jakarta. Pada tahun 1907, Dokter Wahidin sudah ada di Jakarta. Waktu itu dinamakan Batavia. Ia sengaja bertemu dengan murid-murid calon dokter. Ia bertemu dengan pemuda-pemuda Sutomo, Suraji, Gunawan, Angka, Gumberg dan lain-lainnya. Mereka itu pemuda-pemuda yang bersemangat dan mempunyai cita-cita Wahidin.
Dokter Wahidin mengajak pemuda-pemuda untuk mendirikan “Dana Pelajar”, guna membantu mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu.
Pemuda-pemuda itu lalu berkata:
“Cita-cita yang luhur ini, tidak dapat dicapai, bilamana kita tidak mendirikan perkumpulan”.
Demikianlah pada suatu hari Rabu, tanggal 20 Mei 1908, jam 09.00 pagi di gedung Stovia (Sekolah Dokter), yang terletak di jalan Abdurakhman Saleh, Jakarta, tampak banyak pemuda-pemuda. Mereka berkumpul dan mendengarkan pidato-pidato. Mereka itu memang sedang mengadakan rapat. Rapat itu dipimpin oleh pemuda Sutomo, yang kelak menjadi dokter dan pemimpin bangsa.
Apakah hasil rapat tanggal 20 Mei 1908, itu? Penting sekali! Pemuda-pemuda itu telah mendirikan Perkumpulan bernama “Budi Utomo”.
Dengan Budi Utomo, pemuda-pemuda itu ingin memajukan pendidikan bangsa, pertanaian, peternakan, perniagaan, teknik, kesenian dan sebagainya.
Budi Utomo ingin mengangkat martabat bangsa dan membangkitkan kesadaran berbangsa.
Tanggal 20 Mei 1908 adalah penting sekali. Hari itu adalah Hari Kebangkitan Nasional.
Sesudah itu tumbuhlah cabang-cabang Budi Utomo lainnya di mana-mana, yaitu di Bogor, Bandung, Surabaya, Yograkarta, Probolinggo dan tempat-tempat lain.
Juga perkumpulan-perkumpulan lainnya tumbuh kemudian, kesemuanya bertujuan mengangkat derajat bangsa.
Pergerakan Nasional sudah dimulai. Alangkah besarnya jasa Dokter Wahidin! Kebangkitan Nasional ini jiwai oleh semangat Dokter Wahidin. Ia adalah orang yang bercita-cita luhur. Tetapi sebagai manusia, Dokter Wahidin adalah orang yang sederhana, Dokter Wahidin mahir membunyikan alat-alat gamelan dan pandai pula menyanyi.
Dengan kepandaiannya sebagai dokter, ia suka menolong orang. Banyak sekali orang-orang yang berobat kepadanya. Ia adalah dokter yang pandai bergaul dan memandang pekerjaannya sebagai kewajiban suci. Bersama-sama Dokter Sutomo, maka Dokter Wahidin Sudirohusodo adalah peletak batu pertama bagi Pergerakan Nasional kita.
Ia adalah Bapak dari Pergerakan Nasional kita. Pemimpin bangsa dan pembangkit jiwa nasional ini, hingga usia tua tetap bersemangat dan berhaluan muda. Dokter Wahidin meninggal dunia pada 26 Mei 1917, di Yogyakarta dalam usia 60 tahun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTER WAHIDIN

DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO BAPAK PERGERAKAN NASIONAL Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yog...