KARTINI
PEMBANGKIT
JIWA WANITA
Kota Jepara terletak di Jawa Tengah,
tidak jauh dari Semarang. Jepara terletak di tepi pantai. Apabila ke sebelah
Timur, akan tampaklah samar-samar puncak Gunung Murya.
Jepara sekarang adalah kota kecil saja. Tetapi
dahulu pernah terjadi hal-hal yang penting dalam sejarah. Dahulu Jepara adalah Bandar
yang ramai dari kesultanan Demak yang mencapai kebesarannya sekitar tahun 1550.
Sesudah Sultan Trenggono dari Demak meninggal dunia, sebetulnya pusat pemerintahan
pindah ke Jepara. Jepara dahulu diperintah oleh seorang wanita bernama Ratu
Kalinyamat. Walaupun ia wanita, tetapi semangat perjuangannya kita kagumi. Ia tidak
rela orang-orang Portugis berkuasa di Malaka. Dua kali ia menggerakkan armada
menyerang Malaka, yaitu pada tahun 1550 dan 1574.
Pada serangan pertama Demak menyerang
bersama armada Johor. Kedua kalinya bersama armada Aceh. Walaupun usahanya itu
tidak berhasil, tetapi Ratu Kalinyamat sudah menunjukkan dengan bukti, bahwa ia
adalah wanita Indonesia yang kuat.
Dan pada permulaan abad ke-20, di Jepara
hidup pula seorang wanita Indonesia yang perlu kita kagmi. Namanya Raden Ajeng
Kartini. Sekarang biasa kita sebut Ibu Kartini.
Siapakah Kartini itu?
Ia bukan Ratu. Ia juga tidak menggerakkan
armada sebagaimana Ratu Kalinyamat. Tetapi Kartini adalah penggerak jiwa
wanita, pembangkit semangat wanita. Ia adalah seorang yang mempunyai cita-cita
luhur, karena itulah kita hormat kepadanya.
Kartini dilahirkan di Mayong. Apabila kita
periksa peta Jawa Mayong adalah desa kecil dan sunyi saja.
Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April
1879. Ayahnya adalah seorang bupati di Jepara bernama R.M. Ario Sosroningrat.
Saudara-saudara Kartini banyak sekali,
kesemuanya ada 11 anak kakak-beradik. Kartini adalah anak yang kelima.
Pada waktu itu kita masih dijajah
Belanda. Di pulau Jawa keadaan sudah sangat berlainan daripada sebelum Perang
Dipanegara. Apalagi bilamana dibandingkan dengan keadaan ketika Sultan Agung
masih memerintah.
Dahulu kita masih agak bebas bergerak. Tetapi
pada permulaan abad ke-20 ini, kita sudah benar-benar dijajah.
Di luar daerah Surakarta dan Yogyakarta,
bangsa kita paling tinggi boleh menjabat pangkat sebagai bupati. Jadi ayah
Kartini adalah pejabat tertinggi di Jepara. Tidak semua orang bisa menjadi
bupati. Ia harus keturunan bangsawan, artinya nenek moyangnya adalah raja. Orang
kebanyakan, walaupun cerdas, tidak bisa menjadi bupati. Demikianlah pada jaman penjajahan.
Sekarang anak-anak Indonesia banyak yang
bersekolah. Tetapi dulu tidak demikian. Jumlah sekolah masih amat sedikit. Lagi
pula pintu sekolah itu hanya terbuka bagi anak-anak keluarga bangsawan.
Kartini bersama saudara-saudaranya,
yaitu Rukmini dan Kardinah semuanya bersekolah. Demikian pula
saudara-saudaranya yang laki-laki.
Pada masa itu sungguh istimewa, bilamana
anak-anak perempuan bersekolah. Biasanya anak-anak perempuan tinggal di rumah
saja. Ibu-ibu pada jaman itu seringkali memberi nasehat pada puteri-puterinya:
“Ingatlah
selalu, kau anak perempuan. Tidak perlu kau bersekolah. Anak perempuan harus
tinggal di rumah. Anak perempuan sudah cukup, kalau sudah bisa memasak nasi
seperti anak laki-laki. Lagi pula anak perempuan harus pendiam. Bila berbicara
harus perlahan-lahan atau berbisik-bisik. Bilamana berjalan-jalan harus
pelan-pelan pula, tidak baik berjalan cepat-cepat. Anak perempuan tidak boleh
terlalu bebas!”
Kartini adalah anak yang cerdas. Dengan mudah
ia belajar. Ia gemar sekali membaca buku dan menulis karangan.
Pada usia 12 tahun ia sudah tamat
sekolah dasar. Ke mana ia melanjutkan?
Sebenarnya ia masih ingin sekali terus
belajar. Ia bercita-cita menjadi guru. Ia selalu berkata:
“Bila
aku kelak menjadi guru, aku akan membuka sekolah. Aku juga akan mendirikan
asrama!”
Tetapi ternyata cita-citanya itu gagal. Ia
tidak melanjutkan sekolah. Pada usia 12 tahun Kartini sudah harus tinggal di
rumah atau dipingit. Ayah bundanya selalu berkata:
“Tidak
baik bagi seorang perempuan berjalan-jalan di luar rumah, bilamana sudah berumur
12 tahun. Apalagi bagi seorang puteri bangsawan seperti kau, Kartini! Ibu dan
Bapakmu mengerti, kau ingin terus belajar. Tetapi adat-istiadat bangsawan harus
kau turuti. Adat kita melarang anak gadis berjalan bebas di luar rumah!”
Bukan main rasa hati Kartini. Ia menangis
tersedu-sedu. Ia ingin terbang bagaikan elang rajawali, tetapi apa daya? Tembok-tembok
kabupaten Jepara itu serasa akan menghimpit dan menghalang-halangi
kebebasannya. Dalam suasana terkurung itu, Kartini sering kali mencurahkan isi
hatinya kepada teman-temannya. Tetapi kesempatan untuk bergaul dengan bebas,
jarang bagi Kartini. Lagi pula, tidak selamanya teman-temannya itu menetap di
Jepara. Banyak yang pindah ke negeri Belanda. Kartini seringkali mencurahkan
isi hatinya dalam surat-surat, ia kirimkan surat-surat kepada teman-temannya di
negeri Belanda. Kelak surat-srutanya dikumpulkan dan dijadikan buku. Kumpulan
surat-surat itu bernama “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Memang benar, nasib
wanita pada jaman Kartini sungguh-sungguh gelap. Tidak boleh ke luar rumah
sesudah umur 12 Tahun. Tidak dapat pula melanjutkan sekolah.
Kartini selalu menulis kepada
teman-temannya. Ia ingin, agar kaum wanita diberi kebebasan. Agar kaum wanita
dapat mencapai kedudukan yang tinggi. Wanita harus sekolah. Apabila ibu-ibu
menjadi pandai, niscayalah putera-puteranya akan maju juga.
Kartini juga tidak senang, bilamana kaum
wanita diperlakukan sewenang-wenang. Wanita dan pria harus sama kedudukannya. Wanita
tidak boleh dipandang rendah.
Kartini juga tidak senang pada
orang-orang Belanda yang bersifat sombong dan angkuh. Sebenarnya ia tidak
senang pada penjajahan. Ia pun iba hatinya melihat penderitaan rakyat seperti
bahaya kelaparan dan kemiskinan. Kartini sempat pula mendirikan sekolah di kabupaten
Jepara, walaupun murid-muridnya belumlah banyak.
Sedianya Kartini masih mempunyai
kesempatan untuk belajar lagi ke Eropa. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan.
Tetapi tiba-tiba impiannya ini pun
lenyap sama sekali. Kartini harus menikah dengan bupati Rembang. Pada tahun
1903 ia menikah dengan R.A. Joyodiningrat.
Setahun kemudain Kartini melahirkan
seorang bayi, tetapi 4 hari sesudahnya Kartini meninggal dunia.
Kartini adalah wanita yang bercita-cita.
Sekarang cita-cita Kartini sudah banyak yang tercapai. Kedudukan wanita sudah
sama dengan pria. Semua sekolah dan perguruan tinggi sudah terbuka bagi kaum
wanita. Banyak wanita menduduki jabatan yang tinggi dan memegang tugas yang
penting. Kaum wanita sudah tidak dikekang. Ia sudah bebas. Namun demikian,
wanita adalah tetap wanita.
Betapapun majunya seorang wanita, ia
harus tetap memiliki jiwa keibuan. Jiwa penuh kasih sayang, ramah-tamah dan halus
budi bahasanya. Sebenarnyalah, wanita itu tiang negara dan masyarakat. Apabila kaum
wanitanya maju, niscayalah maju pula Negara dan masyarakatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar