DEWI
SARTIKA
PERINTIS
PENDIDIKAN WANITA
Di
kota Bandung pada akhir abad ke-19. Hiduplah seorang patih bernama Raden
Somanagara. Istrinya bernama R.A. Rajapermas. Mereka itu adalah orang tua Raden
Dewi Sattika. Hari lahir Dewi Sartika itu jatuh pada tanggal 4 Desember 1884,
di kota Bandung pula. Kelak Dewi Sartika itu juga dinamakan Juragan Dewi atau
Juragan Ageung.
Sebagaimana
anak-anak bangsawan lainnya pada waktu itu, Dewi Sartika dimasukkan ayah
bundanya ke sekolah Belanda. Orang tuanya berharap kelak Sartika menjadi wanita
yang pandai.
Tetapi
penghidupan keluarga Patih Somanagara yang tenang dan tenteram itu mengalamai
malapetaka yang besar.
Pada
suatu hari di lapangan Tegallega Bandung diselenggarakan pacuan kuda. Banyak sekali
penontonnya. Penduduk Bandung sejak dulu suka sekali pada pacuan kuda. Panggung
kehormatan tampak indah, dihiasi bunga-bunga dan pita-pita warna-warni. Di panggung
itu duduklah para undangan dan orang-orang besar lainnya.
Kebanyakan
adalah orang-orang Belanda. Maklumlah pada waktu itu kita masih hidup pada
jaman penjajahan. Selagi orang memperhatikan pacuan kuda, sekonyong-konyong
terjadi hiruk-pikuk di panggung kehormatan. Tamu-tamu berdiri serentak dan lari
terbirit-birit. Polisi-polisi pun berdatangan. Mereka memeriksa deretan bangku
di panggung itu. Apakah gerangan yang terjadi? Ada tukang coper barangkali. Atau
ada ular yang ingin ikut menonton pacuan kuda?
Salah
semua tebakan kita! Rupanya di panggung itu diketemukan sebuah bom. Sudah tentu
bom itu sewaktu-waktu bisa meledak. Karena itu orang-orang berlari-larian terbirit-birit
mencari keselamatan. Mereka lupa semua pada pacuan kuda yang ramai itu.
Orang-orang
Belanda marah-marah bukan main. Mereka berkata:
“Ini
perbuatan kaum pemberontak. Siapa biang keladinya? Ia musti ditangkap dan
dihukum!”
Dan
siapakah yang bertanggung jawab adanya bom di Tegallega? Rupanya orang-orang
Belanda mencurigai ayah Dewi Sartika. Raden Somanagara terus ditahan dan dijatuhi
hukuman. Ia dibuang ke Ternate hingga akhir hayatnya.
Sejak
hari itu Dewi Sartika tidak dapat bersekolah Belanda lagi. Guru-guru itu tentu
saja tidak mau mempunyai murid anak seorang buangan.
Bangsa
Indonesia suka hidup secara kekeluargaan. Bangsa kita suka hidup bergotong-royong.
Karena itu, keluarga Dewi Sartika, tidak akan membiarkannya hidupnya terlantar.
Dewi
Sartika lalu diasuh oleh pamannya, yaitu Patih Aria Cicalengka. Ia dapat
melanjutkan sekolah. Sekarang ia giat mempelajari kerajinan tangan.
Dewi
Sartika adalah anak yang periang. Ia pun rajin dan sabar. Tidak suka ia
berselisih sesama teman. Dewi Sartika tidak angkuh dan tidak sombong. Walaupun ia
puteri bangsawan, tetapi ia sering bergaul dengan anak rakyat kebanyakan.
Sejak
kecil Dewi Sartika gemar bermain sekolah-sekolahan. Ia menjadi gurunya dan
anak-anak pegawai serta pembantu-pembantunya di kepatihan, adalah murid-muridnya.
Sekolahnya terletak di belakang dapur kepatihan. Papan-papan bekas yang tidak
terpakai, dijadikan papan tulis. Kapurnya arang kayu. Anak-anak itu juga
menggunakan batu tulis, yaitu pecahan-pecahan genting. Sejak kecil, Dewi
Sartika memang sudah mengajar.
Sesudah
Sartika besar, ia pun kembali kepada ibunya di Bandung. Kini ia ingin benar
mendirikan sekolah. Sebagaimana Kartini, Dewi Sartika pun ingin memajukan kaum
wanita. Ia tidak rela melihat kaumnya ketinggalan. Sartika selalu berkata:
“Hanya
pendidikan yang akan membawa kaum wanita ke taraf yang lebih tinggi. Kedudukan kaum
wanita harus sejajar dengan pria!”
Karena
hatinya teguh dan tekun berhasil juga Dewi Sartika mendirikan sekolah.
Pada
tanggal 16 Januari 1904, ia membuka Sekolah Gadis. Tempatnya di kabupaten
Bandung. Mula-mula sekolah itu dinamakan “Sekolah Isteri”.
Sekolah
gadis itu adalah yang pertama di Priangan, bahkan yang pertama pula di Indonesia.
Makin lama Sekolah Isteri makin maju. Murid-muridnya terus bertambah, sehingga
ruangan-ruangannya menjadi terlalu sempit. Setahum kemudian gedung sekolah itu
dipindahkan ke sekolah di jalan Raden Dewi yang sekarang.
Pendidikan
murid-muridnya pun makin maju. Murid-murid juga mendapat pelajaran menjahit,
menisik, menyulam dan merenda.
Pada
usia 22 tahun Dewi Sartika menjadi berkembang. Bersama-sama suaminya Dewi
Sartika bekerja giat memajukan sekolah sehingga nama sekolahnya diganti menjadi
“Sekolah Keutamaan Isteri”.
Pelajarannya
ditambah dengan kepandaian memasak, mencuci, membatik dan menyeterika.
Sekolah
Keutamaan Isteri tidak hanya dikunjungi oleh murid-murid Bandung. Bahkan ada
pula murid-murid yang datang dari Bukittinggi. Demikian pula di tempat-tempat
lain, dibuka cabang-cabangnya, misalnya di Garut, Purwakarta dan Tasikmalaya.
Kelak
nama sekolah diganti lagi menjadi “Sekolah Raden Dewi”.
Ketika
pada tahun 1945 Revolusi Indonesia pecah, Ibu Dewi Sartika mengalami sebagaimana
dialami oleh bangsa kita lainnya.
Pada
tahun 1946, tentara Inggris dan Belanda menyerbu Bandung. Terjadilah Bandung
Lautan Api.
Ibu
Dewi mengungsi ke Ciparay, terus ke Garut dan akhirnya ke Cineam di sebelah
Selatan Ciamis. Tetapi di Cineam itu Ibu Dewi yang sudah lanjut usianya yaitu
berumur 63 tahun jatuh sakit. Pada tanggal 11 September 1947, Ibu Dewi
meninggal dan menyusul suaminya yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah.
Kelak
makamnya dipindahkan ke Bandung. Dewi Sartika adalah seorang wanita yang
bercita-cita. Ia ingin melihat kaumnya maju. Ia sudah berusaha dan bekerja
keras serta beramal untuk mewujudkan cita-citanya itu.
Dewi Sartika sudah berjasa untuk bangsa dan Negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar