DIPANEGARA
MEMILIH
HIDUP MENDERITA, TETAPI MULIA
Tegalreja
adalah sebuah desa di luar kota Yogyakarta. Di suatu puri berdiamlah Ratu Agung
dengan cucunya, Ontowiryo.
Kelak
ia terkenal sebagai Dipanegara. Ratu amat sayang kepada cucunya. Beliaulah yang
mendidik dan mengasuh Ontowiryo. Ratu Agung sangat mementingkan pendidikan agama
dan jiwa kesatria.
“Ontowiryo,
keadaan dahulu berlainan dengan sekarang demikian kata-kata neneknya.
Dahulu
Mataram adalah Negara yang besar, hampir meliputi seluruh pulau Jawa. Waktu itu
Mataram diperintah Sultan Agung. Pernah Sultan Agung menyerang Belanda di Batavia,
hingga dua kali. Tetapi Mataram makin hari makin mundur. Pada tahun 1755 pecah
menjadi Yogyakarta dan Surakarta. Dua tahun lagi Surakarta malahan dipecah pula
dan berdirilah Mangkunegaran.
Sekarang
orang-orang Belanda berkuasa di mana-mana. Dengan seenaknya mereka ke luar
masuk keraton. Merekalah yang menentukan, siapa-siapa yang akan menjadi Sultan
Patih dan Bupati-Bupati.
Dahulu
keadaan sangat berlainan. Apabila orang-orang Belanda ingin menghadap raja
kita, mereka tidak akan diiringi dengan payung. Terlebih dahulu, orang Belanda
itu harus melayani raja. Mereka mempersembahkan kotak tempat sirih. Tempat duduk
orang Belanda lebih rendah daripada tempat duduk raja. Waktu itu kita masih
berkuasa, Ontowiryo!”
“Mengapa
kita biarkan saja keadaan seperti itu, nenek Ratu Agung? Mengapa kita tidak
melawan Belanda?”, tanya Dipanegara.
“Sudah
banyak yang melawan, cucuku! Sudah banyak pahlawan-pahlawan yang gugur, seperti
Baurekso, Tarunajaya, Untung Surapati. Banyak pula yang dibuang jauh dari pulau
Jawa, cucuku. Banyak lagi pahlawan-pahlawan bangsa dari Aceh, Jambi,
Minangkabau, Palembang” jawab nenek Ratu Agung.
“Penghidupan
rakyat juga ikut mundur cucuku! Pajak-pajak begitu berat dan perdagangan bangsa
dikuasai asing. Tidak banyak lagi hasil perdagangan yang dapat dirasakan
rakyat.. apabila keadaan begini terus niscayalah rakyat akan jatuh miskin!”
Dipanegara
mendengarkan ucapan-ucapan neneknya dengan sungguh-sungguh. Ucapan-ucapan itu
diresapkannya dalam hati sanubarinya.
Ketika
ia sudah dewasa, makin terang dan jelaslah apa yang dilihat. Makin nyaring pula
apa yang didengar. Keadaan dalam masyarakat cocok benar dengan kata-kata
neneknya. Rakyat memang miskin. Di mana-mana rakyat dibebani pajak yang berat. Berjualan
di pasar dikenakan pajak. Melewati jembatan, harus membayar pajak. Melalui jalan
raya, ke luar uang pula untuk pajak.
Penghidupan
di keraton cocok pula dengan kata-kata nenek. Orang-orang Belanda lalu lalang
seenaknya. Adat istiadat keraton sudah banyak yang dilanggar dan ditinggalkan. Bahkan
tidak sedikit para pangeran yang ikut-ikutan dengan cara-cara hidup orang
Belanda. Penguasa-penguasa di keraton banyak yang bersahabat dengan orang-orang
Belanda, misalnya Patih Danureja.
Dengan
hati masgul Dipanegaara melihat penghidupan di keraton dan masyarakat. Ia tidak
senang melihat bangsa dan negaranya makin hari makin merosot. Dipanegara adalah
seorang putera raja, yaitu Sultan Hamengku Buwono III atau Sultan Raja. Tetapi ia
tidak senang hidup di keraton. Ia lebih senang bergaul dengan orang-orang
sederhana di desa-desa, di langgar-langgar dan di masjid-masjid.
Dipanegara
seringkali hidup menyendiri dan memikirkan bangsa dan negaranya. Teringatlah ia
akan kata-kata neneknya. Teringatlah pula ia akan khotbah-khotbah di
surau-surau dan ajaran-ajaran agama, bahwa kebathilan harus ditinggalkan dan
keadilan serta kebenaran harus ditegakkan. Dipanegara menyadari, keadaan Negara
dan bangsanya yang merosot itu adalah akibat penjajahan Belanda. Karena itu Dipanegara
benar-benar tidak senang pada penjajahan.
Sebaliknya
orang-orang Belanda juga tidak suka pada Dipanegara. Pada suatu hari, ketika
Dipnegara sedang duduk-duduk di purinya di Tegalreja, datanglah seorang
punggawa. Dengan tergopoh-gopoh punggawa itu melaporkan pada Dipanegara
“Pangeran,
orang-orang memasang tonggak-tonggak di tanah Tegalreja. Banyak sekali
jumlahnya!”
“Apa
perlunya mereka memasang tonggak-tonggak?”, tanya Dipanegara.
“Mereka
akan membuat jalan!”, jawab punggawa.
“Mengapa
tidak memberitahukan dulu kepada kami? Cabut saja tonggak-tonggak itu!”,
perintah Dipanegara kepada punggawa.
Lalu
tonggak-tonggak itupun dicabutnya semua. Tetapi orang-orang Belanda kembali
memasang tonggak-tonggak. Dan Dipanegara kembali pula menyuruh cabut semua
tonggak-tonggak itu. Keadaan sudah tentu makin panas. Permusuhan antara Belanda
dengan Dipanegara makin besar. Belanda lalu mengirim Mangkubumi untuk menemui
dan membujuk Dipanegara. Tetapi Mangkubumi bahkan memihak Dipanegara. Ia tidak
mau kembali lagi dan bersedia berjuang bersama Dipanegara. Makin lama makin
banyak orang yang berkumpul di sekitar Dipanegara. Terbentuklah pasukan inti
yang akan berjuang melawan Belanda. Rupanya Belanda mendengar apa yang terjadi
di Tegalreja.
Belanda
lalu berusaha menangkap Dipanegara. Sudah tentu orang-orang Belanda itu tidak
datang begitu saja. Mereka datang bersama pasukan bersenjata lengkap, meriam juga
tidak ketinggalan.
Dipanegara
tentu saja tidak mau menyerahkan diri pada Belanda. Orang-orang Belanda lalu
menyerang dan membakar puri Tegalreja. Mereka disambut dengan suatu
pertempuran.
Terjadilan
perang antara Belanda melawan Dipanegara. Perang itu adalah perang Dipanegara
atau perang Jawa dan berlangsung dari tahun 1825 hingga 1830.
Sambil
duduk di atas kudanya dan melihat purinya di Tegalreja yang dimakan api,
Dipanegara berkata pada Mangkubumi
“Lihat
paman, rumah Tegalreja sudah terbakar. Sekarang kami tidak punya rumah lagi!”
Dipanegara
tidak berperang sendirian. Banyak bupati-bupati, pangeran-pangeran dan
alim-ulama bergabung kepadanya.
Kyai
Maja dengan barisan ulama, memihak Dipanegara. Demikian pula Sentot Alibasya
Prawirodirjo. Ia seorang pemuda berusia 18 tahun. Ia seorang pemuda yang
bersemangat. Selain itu masih banyak pangeran-pangeran dan bupati-bupati yang
ikut Dipanegara.
Pihak
Belanda mengerahkan pula bala tentaranya, dipimpin jenderal De Kock.
Perang
Dipanegara berkobar selama 5 tahun. Daerah peperangan meliputi daerah Jawa
Tengah dan sebagian Jawa Timur. Pasukan-pasukan Dipanegara bergerak cepat. Medan
perang sering berpindah-pindah. Mula-mula terjadi perang hebat di Tegalreja. Kemudian
pindah ke Selarong, Plered, Sala, Kedu, Bagelan dan Banyumas. Juga Tegal dan
Pekalongan ikut bergolak.
Pada
suatu hari, ketika Dipanegara sedang berada di Markas, sekonyong-konyong
datanglah seorang prajurit. Prajurit itu melapor:
“Pangeran,
kami berhasil menawan musuh!”
“Bawa
kemari tawanan itu!”, jawab Dipanegara.
Ternyata,
tawanan itu adalah seorang pangeran yang masih muda. Tawanan itu menyedihkan
benar, setiap hari menangis saja. Dipanegara lalu berkata:
“Lepaskan
saja tawanan itu. Ia masih terlalu muda untuk ikut menanggung bencana perang!”
Jelaslah
bahwa Dipanegara adalah seorang pemimpin yang berperikemanusiaan. Rakyat benar-benar
cinta pada Dipanegara.
Belanda
berkata:
“Barang
siapa berhasil menangkap Dipanegara hidup atau mati akan diberi hadiah uang
banyak”.
Tetapi
tidak ada bangsa Indonesia yang mau mengkhianati Dipanegara.
Bahkan
pada suatu hari pernah Dipanegara dikejar-kejar musuh. Ia mengendarai kudanya
dengan kecepatan luar biasa. Hari baru saja hujan, karena itu tapak-tapak
kudanya tampak jelas di atas jalan desa.
Seorang
wanita yang sudah tua, cepat-cepat mengambil cangkul dan berusaha menghilangkan
jejak-jejak Dipanegara. Karena itu musuh tidak dapat menangkapnya. Alangkah besar
cinta rakyat kepada Dipanegara.
Dengan
cara perang gerilya yang dilancarkan Dipanegara, Belanda mengalami banyak
kerugian. Beribu-ribu tentaranya tewas dan banyak sekali harta bendanya hancur
lebur.
Semangat
tempur barisan Dipanegara memang luar biasa. Ketika mempertahankan benteng
Plered, pasukan Dipanegara pernah tinggal 20 orang.
Dan
dalam medan perang di Gowok, dekat Sala, Pangeran Dipanegara pernah pula luka
pada dada dan lengannya. Walaupun demikian semangat bertempurnya terus
berkobar.
Sebaliknya
kerugian Belanda terus juga bertambah. Belanda lalu menggunakan cara baru. Mereka
sekarang giat mendirikan benteng di mana-mana. Daerah Dipanegara setapak demi
setapak di persempit.
Tetapi
berat sekali untuk menundukkan Dipanegara. Karena itu Belanda menggunakan
siasat lain lagi. Mereka berkata:
“Kekuatan
Dipanegara bersama Mangkubumi, Kyai Maja dan Sentot Alibasya memang kuat
sekali.
Sungguh
berat menghadapi lawan yang bersatu. Karena itu barisan Dipanegara harus kita
cerai-beraikan dengan cara perundingan!”
Belanda
lalu mengajak Kyai Maja untuk berunding. Kyai Maja berhasil dibujuk dan dibuang
ke Manado.
Demikian
pula Sentot dapat dikelabui Belanda dan ia pun dibawaa ke Bengkulu. Tinggallah Dipanegara
seorang diri. Ia masih terus melawan, tetapi tentu saja kekuatannya sudah tidak
sedahsyat dahulu lagi. Sudah banyak anggota-anggota barisan Dipanegara yang
menyerah, ditipu ataupun gugur. Barisan menghadapi saat-saat yang sungguh
berat.
Pada
tahun 1830, Belanda dapat mendekati Dipanegara dan mengajaknya berunding di
Kota Magelang.
Ketika
sedang berunding, sekonyong-konyong Jendral De Kock menyuruh tangkap Dipanegara.
Pengikut-pengikutnya sudah lebih dahulu dilucuti senjatanya.
Dipanegara
telah menjadi korban pengkhiatan pihak lawan, Dipanegara dibawa ke Semarang. Dengan
kapal ia kemudian dibawa ke Batavia, akhirnya ia ditawan di Menado dan kemudian
dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya.
Dipanegara
adalah pahlawan bangsa. Ia memilih hidup berjuang dan menderita, tetapi mulia,
daripada hidup senang dan mewah di keraton.
Dipanegara
sudah lama meninggal dunia, tetapi semangatnya tetap hidup dalam kalbu bangsa
Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar