PANGERAN ANTASARI


PANGERAN ANTASARI
SULTAN YANG BERJUANG

Di tengah-tengah kampung rakyat, jauh dari Pesirapan, berdiamlah Antasari, pesirapan itu adalah keraton tempat kediaman Sultan kerajaan Banjar di Kalimantan.
Antasari adalah seorang yang tegap dan kuat. Ia adalah seorang yang sederhana. Tidak ada perbedaan antara cara hidup dan cara berpakaian Antasari dengan penduduk kampung lainnya. Penduduk mengenakan ikat kepala, Antasari selalu memakainya pula. Penduduk mengenakan sarung, demikian pula Antasari, ia juga seorang yang taat pada agama. Setiap hari Jum’at ia pergi bersembahyang di surau-surau dan masjid-masjid. Ia bergaul dengan rakyat. Ia mendengarkan suara hari rakyat. Rakyat tidak senang terhadap pengaruh Belanda yang makin hari makin besar di kerajaan Banjar. Rakyat tidak senang pada penjajahan.
Walaupun Antasari adalah seorang yang kini hidup sederhana, tetapi sebenarnya ia adalah seorang pangeran. Antasari itu anak pangeran Mashud, dan pangeran Amir itu kakeknya. Siapa yang tidak pernah mendengar nama pangeran Amir? Ia adalah seorang pejuang bangsa di Kalimantan. Pernah pangeran Amir mengangkat senjata melawan Belanda, tetapi akhirnya menderita kekalahan. Pangeran Amir ditangkap dan kemudaian dibuang ke Srilanka.
“Karena itu Antasari, walaupun kita ini keluarga pangeran, keturunan kerajaan Banjar, tetapi kita tidak berdiam di Pesirapan. Kita berdiam sebagai rakyat biasa di kampung ini. Walaupun demikian, kita tetap gembira dan menegakkan kepala. Jangalah sekali-kali menyombongkan asal keturunanmu, hai Antasari!
Kakekmu pengeran Amir, tidak suka Belanda makin besar kekuasaannya di negeri ini. Dahulu, kerajaan Banjar ini makmur. Kita menjual lada kepada pedagang-pedagang asing. Tetapi sejak tahun 1636 Belanda atau Kompeni sudah mulai mengikat perdagangan kita. Kompeni juga mendirikan loji di Banjarmasin!”
“Apakah baru pangeran Amir yang berani melawan Kompeni ayah?” tanya Antasari
“Tidak anakku, sudah pernah rakyat menyerbu dan membakar loji Kompeni pada tahun 1638. Bahkan kapal-kapal mereka yang berlabuh di Kota Waringin habis dibakar. Tetapi kemudian Belanda datang lagi dan mengikat kita lagi. Ketika Belanda berbuat terlalu jauh, yaitu menguasai seluruh kerajaan Banjar dan Sultan Nata seakan-akan hanya sebagai peminjam tanah saja, pangeran Amir sama sekali tidak rela,. Itulah sebabnya kakekmu mengangkat senjata, Antasari!” jawab ayahnya.
Antasari mendengarkan certa-cerita orang tuanya itu dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar tidak senang pula terhadap penjajahan. Ia sadar benar, negaranya menjadi mundur, akibat penjajahan Belanda.
Antasari selalu mendengarkan cerita-cerita ayah dan bundanya. Pada waktu itu yang menjadi Sultan di Banjarmasin adalah Sultan Adam. Pangeran Abdurakhman adalah putera mahkota. Apabila kelak Sultan Adam meninggal dunia, niscayalah pangeran Abdurakhman akan menggantikannya.
Pangeran Abdurakhman mempunyai dua orang putera, yaitu Pangean Tamjid dan pangeran Hidayat. Tetapi pada tahun 1852 putera-putera mahkota meninggal dunia lebih dahulu. Hal ini menimbulkan kesulitan-kesulitan. Orang-orang saling bertanya:
“Siapakah yang kiranya kan menjadi putera-putera mahkota sekarang? Siapa pula yang akan menggantikan Sultan Adam kelak? Pangeran Tamjid atau pangeran Hidayatkah?”
Justru kedua cucu Sultan Adam itu mempunyai sifat-sifat yang berlainan. Sultan Adam sendiri ingin benar, agar Hidayat menjadi putera mahkota. Ia selalu berkata:
“Lihatlah ia, cucuku pangeran Hidayat! Ia seorang yang taat pada agama, sebab itu dicintai rakyat. Lagi pula ia mempunyai jiwa yang halus dan mengetahui seni dan adat-istiadat. Pilihanku sungguh tepat. Pangeran Hidayat yang kelak menggantikanku dan menjadi Sultan di Kerajaan Banjar!”
Sebaliknya residen Belanda yang selalu mengamat-amati Sultan di Banjarmasin, bernama Vang Hengst berpendapat lain. ia selalu memuji-muji Tamjid. Ia lebih senang pada Tamjid. Padahal pangeran Tamjid tidak disukai rakyat, karena ia gemar hidup foya-foya dan tidak teguh pada agama. Ia pun seorang sahabat Belanda.
Lima tahun kemudian, yaitu pada tahun 1857, Sultan Adam wafat. Siapakah sekarang yang menjadi Sultan? Dalam surat wasiat, Sultan Adam tetap menunjuk pangeran Hidayat. Tetapi Belanda berkata:
“Tidak, tidak baik pangeran Hidayat menjadi Sultan. Pangeran Hidayat cukup menjadi Mangkubumi saja. Pangeran Tamjid tepat sekali sebagai Sultan. Ialah Sultan kerajaan Banjar yang sekarang, pengganti Sultan Adam!”
Sudah barang tentu keadaan masyarakat menjadi kacau balau. Banyak pangeran-pangeran tidak suka pada Tamjid, mengapa ia pula yang diangkat sebagai Sultan?
Antasari pun mulai bergerak. Ia menghubungi kepala-kepala daerah dari Hulu sungai, Martapura, Pleihari, Barito, Kahayan, Kapuas dan tempat-tempat lain. Antasari selalu berkata:
“Belanda sudah menggadaikan surat wasiat Sultan Adam. Seharusnya pangeran Hidayat menjadi Sultan. Pangeran Hidayat harus kita bela. Belanda telah menginjak-injak hukum dan adat istiadat di Negara kita. Tidak boleh kita biarkan keadaan serupa ini. Kita harus lawan keputusan Belanda.”
Semua pihak setuju dengan ajakan Antasari. Mulailah diadakan persiapan menyusun barisan. Panglima-panglima sudah siap semua, yaitu Surapati, Demang Leman, Kyai Adipati Mangkunegaraan, Kyai Suta Kara, Tumenggung Singapati, Cakrawati dan lain-lainnya. Mereka sudah siap untuk berperang membela agama dan kemerdekaan.
Pada bulan April 1859 mulailah barisan Antasari menggempur benteng Belanda di Pengaron. Pecahlah Perang Banjar yang dahsyat. Belanda mendatangkan bantuannya. Mereka mencurahkan segenap kekuatannya. Tetapi Antasari dan Hidayat berperang dengan gigih.
Barisan Antasari berperang dengan cara perang gerilya. Sebentar mereka muncul di Selatan, kemudian lenyap lagi. Tiba-tiba mereka muncul di Utara. Belanda bergerak ke Utara, tahu-tahu mereka sudah hilang. Tetapi mereka kembali berada di Timur. Begitu seterusnya, sehingga Belanda pusing juga.
Sementara itu Belanda terus menekan. Mereka berhasil membujuk pangeran Hidayat. Sesudah berperang tiga tahun lamanya, Hidayat menyerah pada Belanda. Ia lalu ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Belanda menyangka perang akan segera padam. Nyatanya perang bahkan makin berkobar.
“Saudara-saudara, pangeran Hidayat sudah menyerah. Apa yang hendak kita kerjakan? Apakah kita juga akan menyerah kepada Belanda?”
“Tidak pangeran, kita tidak mau menyerah. Patah tumbuh hilang berganti. Semula kita mengharap, agar pangeran Hidayat menjadi Sultan. Ternyata harapan itu kini hilang. Sekarang kita harus bertindak. Kita angkat Pangeran Antasari menjadi pangganti Sultan Adam!” jawab para Panglima. Sejak itu, Antasari adalah Sultan kerajaan Banjar. Ia bergelar Panembahan Amiruddin Khalifat ul Mu’minin.
Berbeda dengan Sultan Tamjid yang diangkat Belanda, Antasari adalah Sultan pilihan rakyat. Berbeda dengan Sultan Tamjid yang berdiam di Pesirapan, di Banjarmasin atau Martapura dan hidup mewah serta senang, Antasari bersiam di benteng-benteng dan markas-markas di tengah hutan jauh dari kesenangan.
Antasari adalah Sultan yang gagah berani. Berkali-kali Belanda membujuk, agar Antasari menyerah, tetapi ia teguh pada pendiriannya. Pernah Letnan Kolonel Verspyck berkata:
“Pangeran Antasari, lebih baik pangeran menyerah saja, buat apa pangeran hidup bersusah-payah di hutan-hutan. Jauh dari keramaian. Lebih baik pangeran memikirkan hari esok dan hidup tenteram dan tenang”
“Kami berperang adalah untuk menegakkan hukum Allah dan memulihkan kedaulatan dan kemerdekaan bumi Banjar!” jawab Antasari.
Perang pun terus berkobar. Tetapi Antasari makin tua umurnya. Hidup di tengah hutan, sambil berperang sungguh bukan hidup yang mudah.
Pada suatu haru Antasari jatuh sakit. Parah sekali penyakitnya. Ia tidak mungkin lagi berjuang seperti sedia kala.
Pada tanggal 11 Oktober 1862, Antasari meninggal dunia. Ia kembali menghadap Tuhan.
Antasari adalah pencetus Perang Banjar. Ia sudah memenuhi janji perjuangannya. Hingga saat-saat terakhir dalam hidupnya ia terus berjuang menentang penjajahan.
Antasari adalah Pahlawan Bangsa. Walaupun Antasari sudah meninggal dunia, tetapi perang di Kalimantan tetap berkobar. Putera-puteranya meneruskan perjuangan ayahnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTER WAHIDIN

DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO BAPAK PERGERAKAN NASIONAL Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yog...