SI SINGAMANGARAJA


SI SINGAMANGARAJA
HINGGA AKHIR HAYATNYA TETAP
MENETANG KOMPENI

Orang Belanda di Betawi kali ini mengalihkan pandangannya ke daerah Tapanuli, sekitar danau Toba. Dengan teliti mereka melihat peta pulau Sumatera. Mereka berkata:
“Daerah-daerah lain sudah kita kuasai. Tetapi siapa di antara opsir-opsir di sini pernah berlayar di danau Toba? Tentu belum ada! Sudah datanglah masanya untuk menguasai Tanah Batak itu. Jangan sampai orang-orang Belanda ketinggalan dari bangsa-bangsa Jerman!”
Memang hingga pertengahan abad ke 19 itu, Tanah Batak belum lagi didatangi serdadu Belanda. Ada juga beberapa pendeta bangsa barat, seperti bangsa-bangsa Inggris, Belanda, Amerika dan Jerman yang pernah sampai di Tanah Batak. Mereka itu menyiarkan agama Kristen dan mendirikan gereja-gereja. Tetapi bendera Belanda belum lagi berkibar di tanah Batak. Orang-orang Belanda pasti ingin benar cepat-cepat menaklukkan Tapanuli, tetapi hal itu tidaklah mudah.
Sejak beberapa abad yang lalu, di Tapanuli, hidup seorang raja bernama Si Singamangaraja. Ia adalah pemimpin tertinggi antara penghulu-penghulu atau kepala-kepala suku yang banyak terdapat di Tanah Batak. Rakyat menghormati Si Singamangaraja dan taat padanya. Bahkan Si Singamangaraja dipandang sebagai tokoh yang keramat. Ibu-ibu dan ayah-aayah di Tanah Batak, sering kali bercerita tentang kebesaran Si Singamangaraja pada anak-anaknya di rumah. Mereka bercerita:
“Anak-anakku, ketahuilah, mata air yang terdapat di dekat Sibolga itu terjadi karena Si Singamangaraja menerjang batu di situ”.
Demikian pula rakyat percaya, Si Singamangaraja bisa mendatangkan hujan dan angin, serta mampu menyembuhkan penyakit. Begitu cintanya rakyat Tapanuli kepada Si Singamangaraja.
Pada waktu orang-orang Belanda mengincarkan pandangannya ke Tanah Batak, yang memerintah di istana Bakara adalah Si Singamangaraja ke XII. Ia juga disebut Raja Patuan Besar atau Ompu Pulau Botu.
Si Singamangaraja ke XII adalah seorang raja yang tegap dan tinggi badannya. Ia benar-benar seorang raja yang perkasa. Ia sadar benar orang-orang Belanda ingin menguasai Tanah Batak, sadar benar orang-orang Belanda ingin mengusasi Tanah Batak.
Si Singamangaraja selalu berkata:
“Jangan percaya kepada Gumponi (Kompeni, yaitu Belanda). Mereka akan menjajah kita. Mereka akan merusak-rusak perdagangan kita dan merampas kebebasan kita!”
Dalam barisan Si Singamangaraja terdapat pula panglima perang dari Aceh dan Minangkabau.
Pada tanggal 29 Juni 1883, barisan Si Singamangaraja sudah siap-siap akan menyerang pos-pos Belanda di Tapanuli. Si Singamangaraja berkata kepada panglima-panglimanya.
“Saya sendiri, Panglima-panglima akan membawa pasukan dari arah Barat dan rumah kontrolir Welsink di Balige akan kami serang. Sementara itu, sahabat-sahabatku Teuku Muhammad dan Teuku Sogala, saudara-saudara hendaknya berangkat dari Uluan ke Porsea. Di sana saudara-saudara akan berjumpa dengan pasukan-pasukan kita yang sudah menanti kedatangan saudara-saudara. Dan bersama-sama mereka, hendaknya saudara-saudara bergerak menyerang pos-pos Gumponi di Lagoboti!”
Segala persiapan sudah diatur rapi. Tetapi apa yang terjadi? Rupanya rencana itu bocor dan jatuh di tangan musuh.
Ini adalah perbuatan seorang pengkhianat yang menjual rencana itu kepada Belanda. Tentara Belanda lalu menggempur pasukan Si Singamangaraja sebelum sempat bergerak. Dan gagallah rencana penyerangan yang sudah disusun dengan teliti.
Walaupun demikian perang terus berkobar. Suatu peperangan yang berjalan hampir seperempat abad lamanya.
Orang-orang Belanda berhasil menguasai Bakara, tempat kediaman Si Singamangaraja. Perang lalu berjalan secara gerilya di lembah-lembah curam dan gunung-gunung yang tinggi serta hutan belantara.
Sungguh tidak mudah bagi Belanda untuk menguasai Tanah Batak. Tetapi senjata pasukan Belanda untuk menguasai memang lebih lengkap daripada barisan Si Singamangaraja. Lama kelamaan barisan Si Singamangaraja makin berkurang. Pernah pula orang Belanda berkata:
“Barangsiapa dapat menangkap Si Singamangaraja hidup atau mati akan diberi hadiah uang!”
Tetapi rakyat begitu cinta pada Si Singamangaraja, sehingga tidak ada yang mau mengkhianatinya.
Sementara itu Perang Aceh sudah selesai. Sekarang orang-orang Belanda dapat mencurahkan perhatiannya untuk menundukkan Tanah Batak. Beribu-ribu pasukan Belanda lalu dikirm ke Tapanuli. Mereka terus mendesak pasukan Si Singamangaraja. Putera-putera Si Singamangaraja dan juga puterinya sudah pula gugur.
Dalam suatu hari di hutan Sidikalang pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Christoffel terlibat dalam pertempuran dengan Si Singamangaraja. Malang bagi Si Singamangaraja, ia tertembak tetapi masih bisa bertahan.
Kapten Christoffel minta agar Si Singamangaraja menyerah. Tetapi sambil tersenyum Si Singamangaraja meneggelamkan kepalanya. Akhirnya Si Singamangaraja tertembak lagi dan menghembuskan nafas yang penghabisan. Hari ini adalah tanggal 17 Juni 1907.
Si Singamangaraja sudah gugur sebagai Pahlawan Bangsa. Hingga akhir hayatnya ia tetap menentang penjajahan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTER WAHIDIN

DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO BAPAK PERGERAKAN NASIONAL Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yog...