SULTAN BADARUDDIN


SULTAN BADARUDDIN
DARI PALEMBANG MENYERANG BENTENG
BELANDA DI TEPI SUNGAI MUSI

Pagi itu Sultan Badaruddin dari Palembang mengadakan sidang lengkap. Mangkubumi, para pangeran dan menteri-menteri, serta pembesar-pembesar Negara lainnya hadir semua.
Sultan Baddaruddin memegang secarik surat yang diterimanya dari Pulo Pinang, sebuah pulau di semenanjung Malaka. Surat itu berasal dari Thomas Raffles, seorang pejabat tinggi bangsa Inggris di Pulo Pinang. Sejak 1786 Inggris berkuasa di Pulo Pinang. Sultan mulai berbicara:
“Bagaimana pendapat kalian? Cobalah baca sekali lagi surat itu!” seorang pengawal keraton tampil ke depan dan membaca,
Surat Raffles itu mengandung maksud, agar Sultan Palembang jangan menyia-nyiakan waktu. Supaya Sultan cepat-cepat mengusir Belanda dari Palembang, karena Belanda itu musuh yang berbahaya. Lebih baik Palembang bersahabat saja dengan Inggris. Raffles juga mengirim 4 peti yang berat-berat. Tiap peti berisi 20 senapan model terakhir. Isi surat itu baik sekali. Ramah-tamah tetapi berisi bujukan. Sultan kembali bertanya:
“Nah, bagaimana pendapat kalian?”
“Menurut hemat kami, memang Belanda itu musuh kita. Sejak pertama kali datang pada abad ke-17 dan masih bernama V.O.C. atau Kompeni, sudahlah jelas, bahwa Kompeni Belanda itu merugikan kita. Sekarang kita mendapat anjuran dari Inggris untuk mengusir Belanda. Sebenarnya, tanpa anjuran Inggris pun kita pasti akan mengusir Belanda, manakala kesempatan itu ada. Tentang kiriman senjata itu, lebih baik kita terima saja. Tetapi janganlah sekali-kali kita berbuat salah, yaitu mengusir Belanda untuk memberi jalan bagi Inggris masuk ke daerah kita!”, jawab seorang Pangeran.
“Itu hal yang baik. Sekali-kali bukan karena Inggris, apabila kita kelak mengusir Belanda. Dan tentang saatnya, baiklah kita cari kesempatan yang tepat!” jawab Sultan kembali.
Sementara itu terjadilah hal-hal yang besar di tanah air kita. Daendels yang kejam itu sudah lama pergi dari Indonesia. Orang-orang Inggirs tetap siap-siap untuk merebut tanak air kita. Orang yang diserahi merancang gerakan menyerbu Imdonesia itu bernama Thomas Raffles, ia sudah sejak lama berdiam di Pulo Pinang. Setiap hari ia mendengarkan kabar tentang Indonesia. Raffles adalah seorang Inggris yang tampaknya ramah-tamah. Ia seorang yang pandai berbicara dan menarik hati orang.Raffles juga berkirim surat kepada Sultan Cirebon. Demikian pula kepada Pangeran Ahmad yang tetap menentang Daendels di daerah Cibungur dan Teluk Merica dan juga kepada Sultan Badaruddin di Palembang. Semua surat-surat Raffles itu berisi hasutan, raja-raja kita cepat menyerang Belanda, tentu Inggris akan mudah masuk ke tanah air kita. Raja-raja kita bersikap tenang-tenang saja.
“Buat apa lepas dari mulut harimau untuk kemudian masuk ke mulut buaya?” demikian pikir raja-raja kita.
Tetapi orang-orang Inggris itu ingin benar merebut Indonesia. Karena itu pada tanggal 3 Agustus 1811, datanglah armada Inggris dengan 12.000 pasukan bersenjata. Mereka mendarat di Cilincing, sebelah Timur Tanjung Priuk. Mereka terus menuju ke kota. Terjadilah pertempuran ramai melawan pasukan Belanda di daerah Senen, dekat bioskop Kramat yang sekarang. Tetapi orang-orang Belanda rupanya segan berperang. Mereka lari terbirit-birit menuju Jatinegara, terus ke Bogor dan akhirnya menuju Semarang.
Sementara itu terjadi hal-hal yang besar di Palembang, tepat 4 hari sebelum Belanda menyerah kepada Inggris. Pada hari itu, tanggal 14 September 1811, Sultan Badaruddin memerintahkan untk mengakhiri penjajahan Belanda di Palembang, Sultan Badaruddin bertanya pada Mangkubumi dan para Menteri :
“Apakah kabar terakhir dari Jawa?”
Mangkubumi manghaturkan laporan:
“Pasukan Belanda sudah mundur dan kacau balau! Sebenarnya sejak orang-orang Inggris mendarat di Batavia, kekuasaan Belanda sudah runtuh, sedangkan Inggris belum lagi berkuasa!”
“Apakah saatnya sudah tiba untuk mengusir Belanda?” tanya Sultan lagi.
“Kiranya demikianlah Sultan!” jawab Menteri serentak.
Karena itu Sultan Badaruddin memerintahkan kepada Tumenggung Lanang Sura Nindita bersama 4 menteri. Mereka harus menemui Residen Jacob Groenhoff di bentengnya. Sultan berpesan:
“Tumenggung, sedapat-dapatnya carilah jalan damai tanpa kekerasan. Jelaskan pada Residen, justru untuk kebaikan mereka sendiri, supaya mereka meninggalkan Palembang!”
Pada pagi hari, sekitar jam 09.00, pergilah Tumenggung bersama Menteri-menteri menemui Residen. Setibanya di benteng, Tumenggung Lanang berkata dengan sopan:
Residen kiranya sudah mengetahui, bahwa Belanda sudah tidak berkuasa lagi di Jawa dan di tempat-tempat lain. karena itu untuk kebaikan Residen dan bangsa Belanda segera meninggalkan Palembang. Apabila Residen tetap di sini orang-orang Inggris akan datang kemari, padahal kami tidak ada sangkut-paut dengan orang-orang Inggris!”
Residen Jacob Groenhoff dengan suara yang masih congkak menjawab:
“Itu tidak bisa. Kami mendapat perintah dari gubernur jenderal di Batavia, agar kami bertahan. Mana boleh bangsa Belanda sudah menyerah pada Inggris? Itu tidak betul Tumenggung. Kami sama sekali tidak mendapat perintah untuk meninggalkan Palembang. Itu tidak bisa, Tumenggung!”
Tumenggung Lanang Sura Nindita masih bersabar dan berkali-kali berusaha menyadarkan Residen. Tetapi, sebaliknya Resideng Belanda itu tetap keras kepala. Berkali-kali ia berkata:
“Itu tidak bisa! Itu tidak bisa!”
Sudah barang tentu Tumenggung Lanang hilang sabarnya. Ia berkata dengan geram:
“Baik Residen, saya akan kembali ke keraton!”
Ia pun meninggalkan benteng, tetapi keempat Menteri tadi tetap di tempat. Sementara itu rakyat Palembang sudah mendengar kabar tentang Residen Jacob yang keras kepala dan congkak itu. Tanpa menunggu perintah, rakyat datang berduyun-duyun. Mereka membanjiri halaman sekitar benteng. Mereka datang bergelombang-gelombang dari lorong-lorong dan pasar-pasar, daari desa-desa dan ladang-ladang.
Mereka membawa alat-alat yang dapat dipakai sebagai senjata seperti tongkat, parang, pedang, tombak dan keris. Makin lama jumlahnya makin banyak. Rakyat mulai menguping benteng Belanda.
Tepat jam satu siang lepas Dzuhur. Datang kembali Tumenggung Lanang Sura Nindita dan langsung masuk benteng. Kali ini ia tidak datang sendirian. Ia datang bersama 600 orang prajurit kesultanan lengkap senjatanya.
Residen Jacob Groenhoff gemetar seluruh badannya. Ia mencoba berdiri dari kursinya, tetapi Tumenggung cepat mencegahnya.
“Jangan berdiri” katanya tegas.
Tiada berapa lama, masuklah Pangeran Nata. Ia membawa surat dari Sultan dan dibacanya dengan tenang di depat Residen Jacob Groenhoff. Surat itu berisi perintah supaya Belanda segera meninggalkan Palembang, karena Batavia dan Pulau Jawa sudah lepas dari Belanda.
Daripada menyerah dengan baik-baik, ternyata Residen Jacob ini makin keras kepala. Ia tidak mau meninggalkan benteng ia tidak mau melepaskan kekuasaannya di Palembang. Rakyat yang berkumpul di luar benteng hilang kesabarannya. Mereka lalu menyerbu benteng dan merampas senjata-senjata pasukan Belanda. Dalam keadaan kalut itu terdengarlah pekikan seorang Pangeran:
“Ikatlah orang Wolanda!”
Semua orang-orang Belanda dalam benteng itu lalu diikat. Mereka dibawa ke luar dan dimasukkan ke dalam kapal yang berlabuh di sungai Musi. Tatkala kapal itu berada di muara Sungsang, rupanya terjadi ledakan-ledakan. Terbenamlah kapal itu bersama penumpangnya. Kejadian itu menyedihkan. Sayang sekali Residen Jacob Groenhoff tidak mau insyaf. Apabila orang-orang Belanda mau meninggalkan Palembang baik-baik, tentu malapetaka pada tanggal 14 Agustus 1811 dapat dihindarkan. Palembang kini bebas kembali. Tetapi untuk berapa lama?
Sejak Belanda kalah, Raffles lalu berkuasa di Jakarta. Kini Raffles bukan Raffles yang dulu lagi. Ia tidak lagi ramah-tamah kepada raja-raja kita. Raffles ingat kirimannya empat peti berisi 80 senjata api kepada Sultan Badaruddin. Ia lalu mengirimkan letnan Johnson ke Palembang sebagai Residen Inggris di sana. Sultan Badaruddin menolak kedatangan Letnan Johnson. Sultan menjelaskan, bahwa ia sejak 14 September 1811, Palembang sudah bebas. Ia tidak lagi tunduk pada Belanda maupun Inggris. Raffles marah sekali. Sebagaimana Daendels, ia juga mengirim pasukan bersenjata di bawah komando Gillespey.
Pada tahun 1812 pasukan Inggris menyerbuk keraton. Sultan Badaruddin terdesak ke luar. Inggris lalu mengangkat adik Sultan Najamuddin menjadi Sultan Palembang.
Badaruddin sempat menentang Inggris dari luar kota. Kemudian ia menghentikan perlawanan dan kembali ke kota. Tetapi ia tidak lagi menjadi Sultan.
Badaruddin sudah berusaha dengan kemampuan yang ada padanya untuk mengenyahkan penjajajahan dari Palembang. Tetapi musuh terlalu kuat.
Walaupun demikian Sultan Badaruddin tetap kita ingat dan kita hormati, sebagai Sultan yang pernah bertindak dan berikhtiar untuk menegakkan kemerdekaan Bangsa dan Negara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTER WAHIDIN

DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO BAPAK PERGERAKAN NASIONAL Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yog...