PATTIMURA


KAPITANG PATTIMURA
MENOLAK PENJAJAHAN BELANDA

Hari itu penanggalan menunjukkan tanggal 3 Mei 1817. Orang-orang di Saparua dan sekitarnya berduyun-duyun menuju ke tempat rapat. Banyak sekali jumlahnya. Kira-kira lebih dari 1000 orang. Mereka itu kepala-kepala keluarga. Wajah orang-orang itu tegang kelihatannya. Tentu saja, karena mereka akan membicarakan soal-soal yang berat. Mereka membicarakan soal kemerdekaan tanah airnya.
Dalam rapat itu seorang pemimpin maju ke depan lalu berbicara:
“Saudara-saudara sebangsa, kita semua menghadapi saat-saat yang gawat. Sesudah orang-orang Belanda meninggalkan tanah Maluku, kini mereka kembali lagi. Apakah artinya ini? Ini berarti, bahwa kita semua akan kembali hidup menderita. Saudara-saudara masih ingat, orang Belanda datang ke Maluku untuk mengambil pala dan cengkeh kita. Mereka melarang kita menjual rempah-rempah kepada saudagar-saudagar lain yang bersedia membayar lebih banyak. Mereka menebangi pohon-pohonan kita. Mereka membakari dan merusak kebun-kebun kita. Masih ingatkah saudara-saudara? Dengan perahu-perahu hongi mereka mengejar-ngejar dan menganiaya kita. Bahkan banyak saudara-saudara dan anggota keluarga kita dibuang ke pulau Jawa, dan sebagainya. Apakah saudara-saudara sudah lupa tatkala mereka memaksa kita menyerahkan kayu-kayu, ikan kering dan dendeng serta kopi? Masa itu tidak boleh kembali lagi!”
Kata-kata pemuka tadi benar-benar sesuai dengan hati-nurani rakyat Saparua dan Maluku. Mereka tidak mau hidup menderita lagi. Karena itu mereka berikrar menentang kembalinya Belanda dengan kekerasan senjata. Mereka seia-sekata menentang penjajahan.
Kira-kira dua minggu kemudian, tepatnya tanggal 16 Mei 1817 rakyat Saparua bersiap-siap menyerang benteng Belanda Duurstede. Mereka membawa banyak senjata, seperti klewang, pedang, tombak dan senjata api. Mereka juga membaawa tangga-tangga yang dibuat dari bambu untuk menaiki dinding benteng yang tinggi.
Para pejuang dipimpin seorang bernama Thomas Mattulessy Ia juga disebut Kapitang Pattimura.
Pattimura adalah seorang perwira berbadan tegap dan tinggi. Dahulu ia berpangkat sersan mayor dalam dinas tentara Inggris. Pattimura adalah seorang yang taat pada agama. Ia memeluk agama Kristen Prostestan. Sebelum berangkat ke medan perang, tidak lupa ia bersembahyang. Pattimura adalah seorang pemimpin yang dicintai rakyat. Ia seorang yang pandai lagi cekatan.
Tepat pada jam 10 pagi, rakyat mulai bergerak menuju benteng Duurstede. Mereka bersorak-sorai dan menyanyi lagu-lagu perang. Kemudian mereka mengepung benteng Belanda, berjam-jam lamanya. Tatkala matahari sudah jauh condong ke Barat, pasukan Pattimura mulai menyerang. Mereka mendobrak pintu benteng, memasang tangga-tangga dan meloncati dinding-dinding.
Penjaga-penjaga benteng Duurstede tidak kuasa menahannya. Mereka menyerah. Banyak pula yang tewas. Residen Van den Berg tewas kena peluru pasukan Pattimura.
Perlawanan terhadap Belanda tidak hanya di Saparua. Juga di Ambon terutama di jazirah Hitu, rakyat menyerbu benteng-benteng Belanda. Perlawanan di Hitu dipimpin oleh Urupala. Ia seorang yang sudah sangat tua. Umurnya sudah 80 tahun, tetapi masih bersemangat. Urupala beragama Islam. Jadi dalam perang Pattimura itu, orang Kristen dan Islam bahu-membahu melawan penjajahan Belanda.
Orang-orang Belanda di Batavia marah sekali terhadap Pattimura.
“Kirim kapal-kapal ke Saparua!”, demikian kata orang-orang Belanda.
Kapal-kapal Belanda lalu berlayar ke Saparua. Tentaranya didaratkan dan bergerak mendekati benteng. Tetapi prajurit-prajurit Pattimura sudah mengetahui lebih dahulu. Mereka menyebar dan bersembunyi di semak-semak belukar. Ketika dilihatnya pasukan Belanda berjalan mendekati benteng, mereka itu terus saja diserang. Orang-orang Belanda terkejut bukan main. Mereka sama sekali tidak menyangka akan diserang di tengah jalan. Banyak sekali yang jatuh menjadi koeban. Tentara Belanda mundur kembali menuju kapal-kapalnya. Penyerangan Belanda untuk merebut kembali bentengnya di Saparua ternyata gagal. Dalam perang Pattimura itu  dikenal pula seorang pahlawan bernama Christina Martha Tiahahu. Ia seorang wanita muda berusia 18 tahun. Orang-orang Belanda lalu mengerahkan kapal-kapal pasukan yang lebih besar dan mengirimkan pasukan lebih banyak. Pasukan itu dikepalai Laksamana Buykes. Mereka lalu mendarat dan menyerang benteng. Karena jumlahnya terlalu banyak, dan senjatanya lebih lengkap, benteng Duurstede itu dapat direbut oleh Belanda.
Pattimura mengundurkan diri, tetapi kemudian ia tertangkap. Belanda menjatuhi hukuman mati.
Pattimura adalah seorang yang tabah dan berani serta penuh tanggung jawab. sebelum menuju tiang gantungan ia berpesan:
“Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit. Selamat tinggal saudara-saudara!”
Kini Pattimura sudah tidak ada. Ia sudah gugur sebagai korban penjajahan Belanda. Pattimura adalah pahlawan bangsa. Ia rela mati untuk suatu cita-cita, yaitu kemerdekaan dan kebahagiaan bangsa dan tanah airnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTER WAHIDIN

DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO BAPAK PERGERAKAN NASIONAL Desa Mlati terletak di sebelah Selatan Gunung Merapi, kira-kira 20 km dari Yog...