SULTAN
ABDULNAZAR ZAINUL MUTTAKIN
BERSAMA
PATIH WARGADIREJA DARI BANTEN
MEMBELA
BANGSANYA DI UJUNGKULON
Hari
bukan main panasnya. Sudah tiga bulan tidak turun hujan. Suasana di Ujungkulon
benar-benar menyedihkan. Beribu-ribu bangsa kita bekarja keras sejak pagi hari hingga
petang. Mereka mencangkul tanah dan menggali parit-parit. Mereka juga
mengangkut batu dan kayu-kayu di bawah teriknya matahari.
Mereka
benar-benar dianiaya seperti seorang penjahat. Sebentar-sebentar mereka itu
dihardik dan dimaki-maki, apabila agak lambat dan lengah sedikit saja.
“Suto,
apakah kau sudah mendengar kabar itu?” tanya Marta kepada temannya sesama pekerja
di Ujungkulon.
“Ya,
kabar apa pula?”
“Samad
sakit, badannya panas dan menggigil terus!”
“Si
Samad juga. Kemarin sudah ada lima yang jatuh sakit, dan lusa kemarin ada sebelas
yang sakit”.
“Ya
dalam bulan ini saja sudah lebih dari dua ratus yang terserang penyakit laknat
itu”
“Ah,
kita semua akan mati terkubur di Ujungkulon ini, Suto. Apakah mandor-mandor dan
lurah-lurah tidak membela kita lagi? Uh, muak aku melihat tingkah tentara
Belanda itu!”
“Sabarlah
Marta, tidak mungkin Sultan dan Patih akan membiarkan kita begini!”
Demikianlah
sedikit percakapan mereka di Ujungkulon, sejak berbulan-bulan mereka bekerja
tanpa kemauan mereka sendiri.
Mereka
adalah petani-petani dan pedagang-pedagang kecil dari desa-desa di Banten. Pada
suatu hari mereka diperintahkan untuk bekerja di Ujungkulon. Mereka dipaksa
membuat pangkalan dan benteng. Benteng itu sama sekali bukan untuk kepentingan
para penduduk desa maupun Sultan Abdulnazar dari Banten. Benteng itu
semata-mata untuk kepentingan Belanda-Perancis.
Orang-orang
kita digiring ke Ujungkulon tempat rawa-rawa dan sarang nyamuk malaria. Tidak heran,
tiap hari berpuluh-puluh orang jatuh sakit dan meninggal dunia.
Tetapi
Daendels di Batavia tidak mau tahu, ia memberi perintah saja kepada Sultan
Abdulnazar di istana Surasowan, agar menyediakan pekerja untuk membangun
pangkalan dan benteng.
“Siapakah
Daendels itu?”
Bagi
bangsa kita, nama Daendels itu merupakan kenangan-kenangan pahit, gelap dan
menyeramkan. Sebenarnya Daendels itu seorang opsir Belanda.
Pada
sekitar tahun 1800 di tanah Eropa terjadi perang besar. Negara Perancis mengalami
revolusi dan kemudian tampilah seorang kaisar bernama Napoleon. Kaisar ini
ingin menguasai seluruh Eropa. Perancis dikeroyok banyak Negara seperti Austria,
Spanyol, Italia, Rusia dan Inggris.
Mula-mula
Napoleon mencapai kemenangan. Hampir seluruh Eropa takluk kepadanya. Juga negeri
Belanda dikuasai Napoleon. Daendels amat kagum pada Napoleon. Ia benar-benar
selalu mengikutinya. Napoleon suka sekali pada Daendels.
Pasa
suatu hari Napoleon berkata:
“Daendels,
pergilah ke Hindia Timur. Kau kuangkat menjadi gubernur jenderal di sana. Jangan
sampai tanah Hindia Timur jatuh ke tangan Inggris. Pertahankanlah baik-baik!”
Daendels
lalu berlayar ke Indonesia. Di Batavia ia bertindak seperti kaisar Napoleon. Ia
benar-benar seorang gubernur jenderal yang keras dan congkak. Kemauannya mesti
dituruti. Apabila melawan ia pasti akan marah. Daendels lalu memberi perintah
kepada raja-raja dan bupati-bupati di Jawa:
“Semua
orang harus bekerja keras. Inggris amat bahaya. Setiap saat kapal-kapal Inggris
bisa mendarat dan merebut pulau Jawa. Kapal-kapal harus dibuat banyak-banyak. Pangkalan-pangkalan
dan benteng-benteng harus dibangun. Satu di Ujungkulon, satu di Batavia dan
satu lagi di Surabaya. Orang laki-laki yang kuat harus masuk tentara. Jalan raya
harus dibuat dari Anyer hingga Panarukan!”
“Dari
mana biayanya?”, tanya bupati-bupati.
“Semua
biaya ditanggung sendiri!”, Daendels menghardik.
Itulah
cara-cara Daendels bertindak.
Sementara
itu di Keraton Surasowan, Sultan Abdulnazar bersama patih Wargadireja dan
pembesar-pembesar lainnya sibuk memperbincangkan keadaan di Ujungkulon. Wargadireja
mengajukan usul:
“Sultan,
keadaan di Ujungjulon tidak dapat dibiarkan, dari laporan yang kami terima,
tiap hari puluhan orang jatuh sakit. Mereka menderita penyakit panas dan dingin
lalu mengigau dan akhirnya meninggal. Kita tidak boleh membiarkan rakyat
menderita terus-menerus, hanya untuk memuaskan hati gubernur jenderal Daendels.
Karena itu hamba usulkan untuk segera menghentikan pekerjaan di Ujungkulon itu!”
“Benar
Patih, kata-katamu memang tepat. Kita harus segera menghentikan pekerjaan di
Ujungkulon”, jawab Sultan.
Lalu
berangkatlah utusan dari Banten untuk menjunpai Daendels.
Daendels
tidak mau bermusyawarah. Daendels malahan marah-marah. Ia menolak sama sekali
usul Sultan. Ia bahkan menuduh Wargadireja sebagai biangkeladinya. Dengan congkak
Daendels berkata:
“Saya
tahu, ini perbuatan Wargadireja. Lekas suruh datang ia kemari!”
“Pangkalan
Ujungkulon harus terus dikerjakan. Orang-orang tidak boleh bermalas-malasan. Sampaikan
pada Sultan, setiap hari paling sedikit harus ada 1000 orang kuli yang bekerja
di Ujungkulon.”
“Pindahkan
saja ibukota Banten ke Anyer. Di sana juga perlu dibangun pangkalan dan
benterng. Bagaimana bisa Jawa dipertahankan dari orang-orang Inggris, bilamana
tidak ada benteng?”
Demikian
jawaban Daendels.
Tetapi
rakyat Banten tidak gentar dan takut. Nama bangsa harus dijunjung tinggi. Sultan
dan Wargadireja tetap pada pendiriannya. Sutan tidak akan mengorbankan rakyatnya
untuk Daendels. Sekarang Daendels lebih
marah lagi, ia mengirim pasukan untuk memaksakan kehendaknya.
Tetapi
apa yang terjadi?
Sultan
dan Wargadireja justru memerintahkan untuk menyerang pasukan Belanda di keraton
Surasowan. Mereka lalu diserang dan banyak yang tewas. Daendels sekarang
mengirim pasukan yang lebih besar. Keraton Surasowan dikepung. Pasukan Banten
bertahan langsung di bawah pimpinan Sultan dan Wargadireja. Tetapi akhirnya
musuh dapat merebutnya juga.
Orang-orang
Daendels lalu menawan Sultan dan Wargadireja. Wargadireja dijatuhi hukuman
mati. Ia sudah gugur. Ia adalah pahlawan, karena ia tidak rela bangsanya
dianiaya. Sedangkan Sultan Abdulnazar ditangkap, dibawa ke Batavia dan lalu
dibuang ke Ambon.
Demikianlah
kisah perlawanan rakyat Banten di bawah pimpinan Sultan Abdulnazar Zainul
Muttakin bersama Wargadireja terhadap Daendels yang sewenang-wenang pada tahun
1809.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar